(Renungan) Dipanggil untuk Menjadi Anak-Anak Terang

Dipanggil untuk Menjadi Anak-Anak Terang
(Irene J. Meiske Widi)

TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan; 
Ia menyebut namaku sejak dari rahim ibuku. 
(Yes. 49:1b)

Kalender Liturgi Rabu, 24 Juni 2026
Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis
Bacaan Pertama: Yes. 49:1-6
Mazmur Tanggapan: Mzm. 139: 1b-3.13-14ab.14c-15
Bacaan Kedua: Kis. 13:22-26
Bacaan Injil: Luk. 1:57-66.80

Pada Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis ini, kita sama-sama menyelami bagaimana Tuhan telah memanggilnya sejak sebelum ia dilahirkan. Bahkan, Tuhan telah memberi nama Yohanes, yang berarti 'Allah yang berbelas kasih', untuk menegaskan bahwa Allah tidak melupakan umat-Nya. Sebab, Dia memanggil Yohanes untuk menjadi pembuka jalan bagi Yesus, Anak-Nya yang terkasih.

Sesungguhnya, Tuhan juga memanggil setiap dari kita sejak masih dalam kandungan ibunda. Dalam Kitab Yesaya, sosok yang disebut hamba Tuhan berseru, “TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan; ia menyebut namaku sejak dari rahim ibuku” (Yes. 49:1b). Namun, inilah bagian sulitnya. Tidak bisa dipungkiri, tidak semua dari kita dapat segera mengenal dan memahami panggilan Tuhan. 

Kala merefleksikan perjalanan hidup sendiri, terlihatlah sosok diri saya yang mengejar karier di usia 20-an, menjadi workaholic di usia 30-an demi mengejar materi, serta berusaha mewujudkan gambaran orang berbahagia di awal usia 40-an. Apakah saya berhasil dengan rancangan ideal itu? Dengan cara-Nya yang ajaib, Tuhan menunjukkan bahwa semua rencana saya itu bukanlah rencana-Nya. Apa yang saya pikir menjadi panggilan saya selama hidup di dunia ini, ternyata bukanlah panggilan yang berasal dari-Nya, tapi hanya bersumber dari pemahaman saya sendiri. 

Saya akhirnya menyadari bahwa panggilan Tuhan bukanlah untuk mencapai kemegahan dunia bagi diri sendiri. “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya karya keselamatan-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yes. 49:6b). Sejak semula, Tuhan memanggil kita untuk menyampaikan kasih kebaikan Tuhan dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib pada semua orang. Bukan untuk memperlihatkan kuat dan hebatnya kita.

Menurut Santo Paulus, kita haruslah hidup sebagai anak-anak terang, sehingga segala hal yang kita lakukan berbuah kebaikan, keadilan, dan kebenaran. 

Sudahkah kita benar-benar mendengar panggilan Tuhan dan melakukan segala hal dengan penuh sukacita untuk Tuhan, serta mengandalkan Allah sebagai sumber kekuatan kita?

Doa:
Allah Yang Maha Rahim dan penuh belas kasih, kami bersyukur atas rancangan indah yang telah Engkau berikan, bahkan sebelum kami dilahirkan. Bantulah kami agar dapat hidup sesuai panggilan-Mu. Kiranya Engkau selalu menyertai kami dan memberikan kami segala rahmat yang kami perlukan, agar segala yang kami lakukan dapat berbuah dan menjadi persembahan terbaik bagi kemuliaan nama-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan juru selamat kami. Amin. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah