(Renungan) Diperdamaikan dengan Allah

Diperdamaikan dengan Allah
(Betsy Lilikwargawidjaja)

''Sebab, jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, terlebih lagi kita, yang sekarang telah diperdamaikan, 
pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya.'' 
(Rm. 5:10)

Kalender Liturgi Minggu, 14 Juni 2026
Bacaan Pertama: Kel. 19:2-6a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 100:2.3.5
Bacaan Kedua: Rm. 5:6-11
Bacaan Injil: Mat. 9:36-10:8

Suatu hari, anak saya merasa sangat bersalah karena telah berbohong kepada saya. Ia takut dimarahi, jadi memilih menjauh dan diam. Mungkin dalam hatinya ia berpikir, “Aku sangat bersalah… pasti tidak akan dimaafkan.”

Namun, saya justru datang mendekat. Bukan dengan marah, tapi dengan pelukan.   
“Mama memaafkan kamu dan tetap mengasihi kamu,” kata saya dengan lembut. Saat itu, anak saya sadar bahwa kasih orang tuanya tidak bergantung pada kesempurnaannya. Pelukan itu bukan berarti kesalahan anak saya dianggap tidak ada. Justru saya merasa bahwa kasih saya sebagai seorang mama menjadi semakin berarti, karena saya memilih mengampuni dan memulihkan hubungan yang sempat rusak.

Saya memilih untuk terbuka menerima dan mengampuni anak saya, karena saya bercermin pada Yesus. Tuhan mengasihi kita bahkan saat kita masih lemah dan berdosa. Yesus datang dan menyerahkan hidup-Nya, bukan karena kita sudah baik, tetapi justru saat kita belum layak. Pengorbanan-Nya membuka jalan agar kita diperdamaikan kembali dengan Allah. Allah mengasihi manusia secara total, bahkan ketika manusia masih lemah dan berdosa. Dosa yang memisahkan kini dipulihkan, sehingga kita bisa hidup dalam hubungan yang baru dengan-Nya.

Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Roma, bahwa kasih Tuhan lebih besar dari dosa manusia dan melalui Yesus kita mendapat pengampunan serta hidup baru. Ketika berdosa kita diampuni, apalagi setelah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti diselamatkan melalui Dia dan oleh hidup-Nya dari murka Allah. Ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia semata.

Seringkali kita merasa tidak pantas datang kepada Tuhan karena kesalahan kita dan kita menjauh dari-Nya. Padahal, Tuhan justru menunggu kita kembali. Kasih-Nya tidak berubah. Ia tidak menolak, tetapi memulihkan.

Hari ini, kita diingatkan bahwa kita dikasihi tanpa syarat, tidak perlu menunggu sempurna untuk kembali kepada Tuhan. Dalam Yesus, kita sudah diperdamaikan, diampuni, dan diberi hidup baru. Tinggal satu langkah saja yaitu datang dan percaya.

Doa: 
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau tetap mengasihi kami meski kami sering jatuh dalam dosa. Ajar kami untuk percaya bahwa kami telah Engkau terima dan diperdamaikan dengan Bapa. Beri kami hati yang berani untuk kembali kepada-Mu setiap hari. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah