(Renungan) Iman Percaya Mengalahkan Ketakutan

Iman Percaya Mengalahkan Ketakutan
(Theresia M. M. Inaesih)

Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu ketakutan, hai Kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. 
(Mat. 8:26)

Kalender Liturgi Selasa, 30 Juni 2026
Bacaan Pertama: Am. 3:1-8; 4:11-12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 5:5-6.7.8
Bacaan Injil: Mat. 8:23-27

Menjadi murid Yesus bukan berarti semua akan aman dan lancar. Namun, harapannya setiap peristiwa akan menjadi pembelajaran agar semakin percaya bahwa Yesus adalah Gembala baik yang tidak akan meninggalkan domba-domba-nya (Mzm. 23:4).

Seperti dikisahkan dalam Matius 8:23-27, ketika perahu yang ditumpangi Yesus dan murid-murid-Nya berada di tengah Danau Galilea, perahu mereka mengalami angin ribut yang dasyat sehingga nyaris tenggelam. Walaupun murid-murid Yesus adalah nelayan yang berpengalaman namun mereka tidak berdaya, dan kemudian membangunkan Yesus yang sedang tidur. “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Yesus menjawab mereka dengan teguran, “Mengapa kamu ketakutan, hai Kamu yang kurang percaya?” Setelah itu Yesus menghardik angin itu dan tenanglah danau itu.

Ketika menghadapi angin ribut, iman murid-murid goyah sehingga menjadi takut. Mereka lupa bahwa Yesus yang memilki kuasa melebihi segala angin ribut, ada bersama mereka. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, angin ribut dalam bentuk berbagai masalah: ekonomi, relasi suami istri, masalah pinjol dan lain-lain, sering mengalihkan pikiran dan pandangan kita dari Yesus; sehingga muncul ketakutan, galau, stress bahkan ada yang kehilangan harapan. Padahal Yesus dengan kuasa-Nya sanggup menolong, memberi kekuatan dan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. 

Saya salut akan ketegaran seorang ibu, yang tetap tegar dan terus berharap hanya kepada Yesus ketika penderitaan dan ketidakadilan dialami keluarganya. Ia mampu menghadapinya hanya dengan bertumpu pada kuasa Yesus yang ia imani; yang telah memberinya kekuatan dalam menjalani semua perkara dan membuatnya mampu berserah, menaruh semua harapan kepada-Nya. Ibu ini senantiasa menjaga relasi erat dengan Tuhan Yesus, untuk memupuk pertumbuhan iman percayanya, sehingga mampu mengandalkan-Nya.

Yuk, kita sama-sama belajar seperti ibu tersebut, terus memupuk pertumbuhan iman percaya kita, dengan  menjalin relasi yang erat dengan Dia, secara pribadi maupun komunitas, sehingga saat badai menerpa, kita selalu percaya Dia tidak meninggalkan kita, bahkan mampu menolong dan memberi kekuatan.

Doa: 
Bapa di dalam surga, penuhi kami dengan rahmat-Mu agar kami dimampukan untuk selalu rendah hati, taat, mau berelasi dengan-Mu, sehingga semakin memiliki iman percaya dan selalu mengandalkan-Mu dalam kehidupan kami. Doa ini kami panjatkan dengan perantaraan Yesus, Tuhan dan Juru Selamat kami, Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah