(Renungan) Kemajuan Teknologi Selaras Kehendak-Nya
Kemajuan Teknologi Selaras Kehendak-Nya
(Melani Sudhana)
(Melani Sudhana)
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.
(Mat. 7:21)
Kalender Liturgi Kamis, 25 Juni 2026
Bacaan Pertama: 2Raj. 24:8-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 79:1-2.3-5.8.9
Bacaan Injil: Mat. 7:21-29
Yesus kembali membuat perbandingan yang kontras. Bukan orang yang berseru, ‘'Tuhan!' kepada-Nya yang akan masuk surga, tetapi yang melakukan kehendak Bapa-Nya yang akan masuk ke dalam surga. Bahkan, Yesus tidak mengenali mereka yang sudah bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mukjizat demi nama-Nya, tapi tidak menjalankan kehendak Bapa-Nya, bahkan melanggar perintah Allah.
Orang yang mendengar dan melakukan perkataan-Nya diumpamakan sebagai orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu. Sehingga tetap kokoh berdiri saat banjir dan angin melanda rumahnya. Sedangkan orang yang mendengarkan perkataan-Nya tetapi tidak melakukannya, disebut sebagai orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir. Sehingga roboh dan rusaklah rumahnya saat banjir dan angin melandanya. Jika kita hidup dengan meresapi sabda Tuhan dan melaksanakannya, niscaya kita akan kuat menghadapi masalah kehidupan. Jika kita hanya mendengarkan sabda Tuhan tapi tidak meresapi dan menjalankannya, kita akan goyah saat menghadapi masalah kehidupan.
Christopher Olah, pendiri Anthropic, perusahaan Artificial Intelligence (AI) dan kepala penelitian interpretabilitas AI, sebuah bidang yang mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam sistem akal imitasi. Dia memastikan, kita bisa melihat dan memahami cara berpikir AI dan menjaminnya tidak berbahaya bagi manusia. Christopher dipilih mendampingi dan berdiri di samping Paus Leo XIV saat peluncuran ensiklik pertama tentang AI dan martabat manusia, Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung). Dia terpilih karena Anthropic paling konsisten menjawab “TIDAK” ketika teknologi diminta melanggar batas kemanusiaan. Satu prinsip yang mereka pegang, AI tidak boleh merugikan manusia. Kursi di samping Paus bukan milik perusahaan terbesar, tapi milik mereka yang paling berani menjaga nilai kemanusiaan.
Kita pun harus berani berkata “TIDAK” jika dihadapkan pada pilihan yang akan merugikan kemanusiaan, kasih, dan segala bentuk yang bertentangan dengan kehendak Bapa. Terutama di era kemajuan teknologi saat ini, di mana banyak penggunaan AI yang merugikan kemanusiaan. Gunakan AI untuk kebaikan dan meningkatkan iman kita.
Doa:
Bapa Yang Maha Kasih, mampukan kami untuk tetap hidup seturut kehendak-Mu, terutama di era kemajuan teknologi ini. Mampukan kami untuk menolak segala bentuk teknologi yang akan merugikan kemanusiaan dan tetap berjalan dalam kasih-Mu. Amin.
Bapa Yang Maha Kasih, mampukan kami untuk tetap hidup seturut kehendak-Mu, terutama di era kemajuan teknologi ini. Mampukan kami untuk menolak segala bentuk teknologi yang akan merugikan kemanusiaan dan tetap berjalan dalam kasih-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar