(Renungan) Kesempurnaan
Kesempurnaan
Teringat pengalaman kecil, ketika berupaya sempurna dalam membuat karya. Saya menulis satu puisi Jawa dan ikut dalam ‘Lomba Menulis Puisi Jawa’ , yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2004. Saya berhasil masuk nominasi 10 terbaik. Kemudian setiap penyairnya diminta menampilkan sendiri puisinya, untuk menentukan juara.
Selain sudah berupaya menulis karya indah, saya juga ingin menampilkannya sebaik mungkin. Saya mempersiapkan diri dengan latihan fisik dan berolah rasa. Saya memilih naik sepeda balap, berziarah dari rumah di Jalan Kaliurang, Yogyakarta menuju ke tempat ziarah. Satu hari ke Goa Maria Sendangsono, kemudian hari berikutnya ke makam Romo Sanjoyo dan Romo Van Lith. Menjelang hari lomba, saya ziarah ke Goa Maria Sriningsih. Di lerengnya puncak Golgota Sendang Sriningsih, saya mereka-reka tampilan di panggung. Tiba-tiba, ada rasa antara ‘yakin’ dan ‘kata suara hati’ yang mengatakan: “Kamu ikut juara...”. Kata hati itu saya ikuti dengan membawa tas besar yang kiranya cukup untuk mewadahi piala kemenangan di lomba besok harinya. Ternyata saya hanya meraih juara Harapan Satu. Tetap saja saya bersyukur sekali.
Jadi upaya menuju kesempurnaan itu bukan hanya masalah rasa (perfeksionisme), tapi juga ada tindakan nyata meskipun sederhana. Tuhan Yesus mengharuskan semua murid sempurna dalam menghayati ajaran-Nya. Artinya semua murid diharuskan menghayatinya dalam perbuatan nyata.
Doa:
Ya Tuhan, kami mohon rahmat-Mu supaya meskipun masih di dunia ini, kami mampu mengupayakan hal yang sempurna. Agar kasih kami menjadi semakin selaras dengan kasih-Mu. Amin.
(Marcellus Nur Basah)
“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.”
(Mat. 5:48)
Kalender Liturgi Selasa, 16 Juni 2026
Bacaan Pertama: 1 Raj. 21:17-29
Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:3-4.5-6a.11-16
Bacaan Injil: Mat. 5:43-48
Bacaan Pertama: 1 Raj. 21:17-29
Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:3-4.5-6a.11-16
Bacaan Injil: Mat. 5:43-48
Yesus, Sang Guru, mengajarkan logika berpikir baru yang berlawanan dengan logika dunia pada umumnya. Dikatakan-Nya, jika para murid mengasihi musuh dan berdoa bagi yang menganiaya, akan disebut anak-anak Bapa di surga. Murid-Nya haruslah sempurna sama seperti Bapanya yang di surga sempurna.
Dalam kenyataan dunia, tidak ada istilah sempurna mutlak. Kesempurnaan itu hanya ada pada keilahian. Itu diyakini sebagai hal rohani sifatnya. Kondisi ini hanya bisa dimengerti, ditangkap, dan dihayati oleh manusia secara imani saja. Dalam penghayatan iman, orang melakukan segalanya sesuai keyakinannya. Meski demikian, dalam hati terdalamnya ada benih rasa ingin sempurna sebisanya.
Teringat pengalaman kecil, ketika berupaya sempurna dalam membuat karya. Saya menulis satu puisi Jawa dan ikut dalam ‘Lomba Menulis Puisi Jawa’ , yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2004. Saya berhasil masuk nominasi 10 terbaik. Kemudian setiap penyairnya diminta menampilkan sendiri puisinya, untuk menentukan juara.
Selain sudah berupaya menulis karya indah, saya juga ingin menampilkannya sebaik mungkin. Saya mempersiapkan diri dengan latihan fisik dan berolah rasa. Saya memilih naik sepeda balap, berziarah dari rumah di Jalan Kaliurang, Yogyakarta menuju ke tempat ziarah. Satu hari ke Goa Maria Sendangsono, kemudian hari berikutnya ke makam Romo Sanjoyo dan Romo Van Lith. Menjelang hari lomba, saya ziarah ke Goa Maria Sriningsih. Di lerengnya puncak Golgota Sendang Sriningsih, saya mereka-reka tampilan di panggung. Tiba-tiba, ada rasa antara ‘yakin’ dan ‘kata suara hati’ yang mengatakan: “Kamu ikut juara...”. Kata hati itu saya ikuti dengan membawa tas besar yang kiranya cukup untuk mewadahi piala kemenangan di lomba besok harinya. Ternyata saya hanya meraih juara Harapan Satu. Tetap saja saya bersyukur sekali.
Jadi upaya menuju kesempurnaan itu bukan hanya masalah rasa (perfeksionisme), tapi juga ada tindakan nyata meskipun sederhana. Tuhan Yesus mengharuskan semua murid sempurna dalam menghayati ajaran-Nya. Artinya semua murid diharuskan menghayatinya dalam perbuatan nyata.
Doa:
Ya Tuhan, kami mohon rahmat-Mu supaya meskipun masih di dunia ini, kami mampu mengupayakan hal yang sempurna. Agar kasih kami menjadi semakin selaras dengan kasih-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar