(Renungan) Mengasihi Sesama: dari Altar ke Kehidupan Nyata

Mengasihi Sesama: dari Altar ke Kehidupan Nyata
(Stephanus Selamat Sunarjo)

“Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 
Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 
Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini." 
(Mrk. 12:30-31)

Kalender Liturgi Kamis, 4 Juni 2026
Bacaan Pertama: 2 Tim. 2:8-15
Mazmur Tanggapan: Mzm. 25:4bc-5ab, 8-10,14
Bacaan Injil: Mrk. 12:28-34

Sebagai seorang Katolik yang baik, tentunya setiap hari kita berdoa mengucap syukur dan memohon perlindungan serta berkat dari Allah, dan mungkin juga menyampaikan doa permohonan lainnya. Juga setiap hari Minggu atau hari lainnya kita pergi ke Gereja untuk bertemu dengan Allah melalui Perayaan Ekaristi. Kita berusaha untuk memelihara hubungan yang baik dengan Allah.

Namun seringkali kita terjebak dalam rutinitas religius, datang ke gereja, memberi persembahan, atau mendengar Firman, namun hati kita terasa kering. Yesus mengingatkan bahwa semua ritual itu tidak ada artinya jika tidak didasari oleh kasih. Mengasihi Allah berarti menempatkan Dia sebagai prioritas tertinggi dalam pikiran, perasaan, dan keputusan kita. Inilah yang Yesus sendiri sampaikan kepada orang Israel dan kepada kita semua: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu (Mrk 12:29-30).

Namun, kasih kepada Allah (yang tidak terlihat) harus dibuktikan melalui kasih kepada sesama (yang terlihat), seperti yang Yesus sampaikan dalam perintah kedua: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mrk. 12:31).

Menjadi pengikut Kristus bukan soal seberapa ketat kita mengikuti aturan, tapi seberapa besar ruang di hati kita untuk mengasihi orang lain, bahkan mereka yang sulit dikasihi. Kerajaan Allah hadir saat kita berhenti mementingkan diri sendiri dan mulai menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Sepertinya mudah untuk melaksanakan kedua perintah tersebut, namun kenyataannya sulit. Saya rajin berdoa dan mengikuti Perayaan Ekaristi, namun hubungan saya dengan adik bungsu, sulit sekali untuk dekat. Setiap kali bertemu kami hanya saling menyapa layaknya teman biasa, jarang mengobrol akrab, terasa ada penghalang. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Mungkin ada luka batin karena saya pernah memarahi dia terkait soal uang. Saya terus berusaha untuk mengasihinya sambil  berharap suatu saat, hubungan kami dapat hangat kembali.

Doa:
Ya Allah, bimbinglah dan mampukanlah kami agar dapat selalu setia mengikuti perintah-Mu. Tuntunlah kami di jalan-Mu agar dapat menjalin hubungan baik dengan sesama dan peduli terhadap mereka yang membutuhkan perhatian. Dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah