(Renungan) Mutiara itu untuk Siapa?

Mutiara itu untuk Siapa?
(Desi Ursula)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
(Mat. 7:6)

Kalender Liturgi Selasa, 23 Juni 2026
Bacaan Pertama: 2 Raj. 19:9b-11.14-21.31-35a.36
Mazmur Tanggapan: Mzm. 48:2-3a.3b-4.10-11
Bacaan Injil: Mat. 7:6.12-14

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” (Mat. 7:6). Sepintas mendengar perumpamaan dengan kata 'anjing' dan 'babi' menjadi aneh di telinga kita saat ini, jika tidak meneliti latar belakang bagaimana Yesus mengeluarkan kata-kata tersebut. Karena bukankah anjing dan babi adalah makhluk ciptaan-Nya, mengapa jadi berkesan negatif seperti itu?

Di zaman itu orang benci dengan  anjing yang banyak berkeliaran dimana-mana. Babi juga demikian, sebagai binatang najis, bahkan merupakan sebutan bagi orang kafir dan juga penjajah Romawi. Tidak jarang muncul umpatan pada orang lain dengan memakai kata 'anjing' atau 'babi'.

Analogi tentang anjing dan babi adalah sebagai perwakilan dari mereka yang akan mengejek, menolak dan menghujat Injil yang disampaikan kepada mereka. Analogi barang-barang kudus tidak cocok diberikan pada anjing karena ia tidak bisa menggunakannya, apalagi mutiara diberikan pada babi. Barang kudus dan mutiara adalah barang berharga seperti permata, logam mulia yang diartikan sebagai kebenaran Firman Tuhan yang mahal nilainya. 

Pada suatu pesta pernikahan, seorang teman bertanya dengan nada mengejek, "Mengapa di pemberkatan pernikahan tadi, pasangan pengantin berdoa menghadap patung Bunda Maria, bukankah kalian adalah menyembah berhala?" Saya  menjawab, "Kami tidak menyembah patung Bunda Maria, kami menghormati dia dan percaya bahwa dia akan menyampaikan doa-doa kami kepada Putranya." Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang peran Bunda Maria-sampai kami pada titik 'bisa' dan 'mampu' menghormati dia sebagai Bunda Gereja. Karena mutiara yang indah ini tidak perlu diberikan pada orang yang belum siap menerima kenyataan ini.

Hati saya jadi tidak enak di tengah pesta pernikahan yang penuh sukacita dan berpikir bahwa memang mengimani Yesus Kristus tidak selalu mengenakkan, tidak selalu berupa jalan tol yang halus dan bebas hambatan. Di akhir Injil menjelaskan bahwa mengimani Yesus Kristus seperti melewati sempitnya pintu dan sesaknya jalan kehidupan. Hanya sedikit orang yang mendapatinya (Mat 7:14).

Doa: 
Bapa Maha Kasih, kami bersyukur atas anugerah iman akan Yesus Kristus. Iman akan Yesus Kristus adalah mutiara paling berharga bagi kehidupan kami. Semoga setiap tutur kata dan perilaku kami, menjadi mutiara bagi sesama di sekitar kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah