(Renungan) Pengampunan

Pengampunan
(Katarina Teny Noviarty)

Namun, Aku berkata kepadamu: Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
(Mat. 5:39)

Kalender Liturgi, Senin 15 Juni 2026
Bacaan Pertama: 1 Raj 21:1-16
Mazmur Tanggapan: Mzm 5:2-3.5-6.7
Bacaan Injil: Mat 5:38-42

Yesus mengajarkan kepada kita tentang pembalasan, bukan dalam arti membalas dendam, melainkan pembalasan yang positif, agar hati kita tidak dipenuhi sakit hati atau kebencian. Ia menegaskan bahwa kejahatan hendaknya tidak dibalas dengan kejahatan, melainkan dengan cinta kasih. Dengan demikian, kita dibentuk menjadi pribadi yang murah hati, rela mengalah dan tidak egois. Hukum 'mata ganti mata, gigi ganti gigi' dipatahkan oleh Yesus demi memutus rantai dendam yang tak berkesudahan. 

Peristiwa 13 Mei 1981 saat Paus Yohanes Paulus II ditembak oleh Mehmet Ali Agca, di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, telah menjadi teladan nyata. Meski luka yang dialami cukup serius, Paus tetap mengampuni pelakunya, bahkan menyebutnya sebagai 'saudara' dan mendatanginya di penjara. Agca, yang tadinya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, akhirnya dibebaskan pada tahun 2000 atas permintaan Paus sendiri. Sikap pengampunan ini menunjukkan bahwa kasih mampu membebaskan, bukan hanya korban, tetapi juga pelaku dari belenggu kesalahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun tak luput dari pengalaman dilukai: difitnah, dicaci, atau disingkirkan. Dalam keluarga, lingkungan, maupun komunitas selalu ada 'ilalang' yang tumbuh di antara 'gandum'. Pertanyaannya, bagaimana kita tetap bertahan dan bertumbuh di tengah ilalang?

Yesus mengajarkan, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Mat. 5:39). Artinya, kita diajak untuk tidak membalas kejahatan dengan kebencian, melainkan dengan pengampunan. Memang, mengampuni bukan hal yang mudah; butuh proses dan kerendahan hati. Namun dengan mengalah, meredam amarah, dan mengingat teladan Kristus, luka hati perlahan dipulihkan.

Apa yang kita alami tidak sebanding dengan penderitaan Yesus dan para Rasul-Nya. Mereka rela menanggung penderitaan demi kasih. Demikian juga kita, dengan mengampuni, kita bukan hanya menyembuhkan diri sendiri, tetapi juga menjadi saksi Kristus yang memutus rantai kebencian. 
  
Marilah kita meneladani kasih Kristus yang sanggup mengalahkan kebencian. Dengan pengampunan, kita dipulihkan dan dimampukan menjadi pembawa damai bagi dunia.

Doa:
Ya Yesus andalan kami, bentuklah hati kami menjadi hati yang penuh kasih, sehingga kami mampu mengampuni, seturut kehendak Bapa di surga, demi Kristus Tuhan pengantara kami. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah