(Renungan) Siapa Tuan dalam Hidupku?

Siapa Tuan dalam Hidupku?
(F. Angelina Wiraatmaja)

Daud sendiri menyebut Dia 'Tuan', bagaimana mungkin Ia anaknya pula?”
(Mrk.12:37a)

Kalender Liturgi Jumat, 5 Juni 2026
Bacaan Pertama: 2Tim. 3:10-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 119:157.160.161.165.166
Bacaan Kedua: Mrk. 12:35-37

Saat menulis renungan ini, saya teringat akan pengalaman bersama putri bungsu saya. Sejak ia di O-Level, saya berusaha mengarahkannya masuk kedokteran karena merasa itulah jalan terbaik baginya. Saya menjelaskan semua hal yang mendukung: kemampuan, pengetahuan, masa depan, dan prospek hidupnya. Hampir lima tahun saya membujuknya. Ketika akhirnya ia setuju, terlihat kelelahan di wajahnya, dan hati saya tersentak. Saya tersadar, selama ini saya ingin menjadi 'tuan' atas masa depan anak saya. Akhirnya saya belajar melepas dan membiarkannya memilih biomedical engineering yang diinginkannya. Anehnya, saat saya berhenti mengontrol, hati saya terasa lebih damai.

Secara keseluruhan, Markus 12 menunjukkan bagaimana Yesus mengembalikan Perjanjian Lama pada inti terdalamnya, yaitu kasih kepada Allah yang nyata dalam hidup, bukan sekadar ketaatan formal. Iman bukan hanya soal aturan dan tradisi, melainkan hati yang sungguh mengakui Allah sebagai Tuhan.

Di Bait Allah, Yesus mengajukan pertanyaan yang menggugah, "Bagaimana mungkin Mesias hanya disebut anak Daud, jika Daud sendiri menyebut Dia 'Tuan'? Jika Daud menyebut-Nya 'Tuan', Ia jelas bukan sekadar keturunan manusia. Ia adalah Tuhan sendiri, yang berotoritas atas hidup manusia. Bukan hanya dihormati, tetapi ditaati. Bukan hanya dimintai pertolongan, tetapi berhak memimpin dan mengarahkan hidup kita.

Pertanyaan Yesus ini seakan diarahkan juga kepada saya: siapa sebenarnya ‘tuan’ dalam hidup saya? Saya menyadari, seringkali memperlakukan Tuhan hanya sebagai penolong saat darurat. Saya berdoa ketika ada masalah, tetapi dalam banyak keputusan tetap ingin memegang kendali. Merasa kecewa jika doa saya tidak terealisasi. Tanpa sadar, sayalah yang ingin menjadi 'tuan'. Bukankah saya sering melakukan hal yang sama terhadap Tuhan?

Melalui Injil hari ini, saya belajar bahwa mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti memberi Dia hak untuk memimpin, bukan sekadar dimintai tolong. Saat doa dan harapan saya tidak sejalan, tetap ada penerimaan dan damai, karena saya percaya hidup ini ada di tangan Tuhan.

Bagaimana dengan kita, apakah sudah sungguh menjadikan Yesus sebagai 'Tuan' hidup kita, atau masih ingin memegang kendali sendiri?

Doa: 
Tuhan Yesus, Engkaulah Tuan hidup kami. Ajarlah kami untuk percaya dan menyerahkan setiap rencana serta langkah kami kepada-Mu. Pimpinlah kami agar selalu berjalan seturut kehendak-Mu. Terpujilah nama-Mu ya Tuhan untuk selama-lamanya. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah