(Renungan) Warga Negara yang Beriman
Warga Negara yang Beriman
(Leo Hans Adrianus)
Lalu kata Yesus kepada mereka,
“Berikanlah milik Kaisar kepada Kaisar dan milik Allah kepada Allah!”
Mereka sangat heran mendengar Dia.
(Mrk. 12:17)
Bacaan Pertama : 2Ptr. 3:12-15a.17-18
Mazmur Tanggapan: Mzm. 90:2.3-4.10.14.16
Bacaan Injil : Mrk. 12:13-17
Orang Farisi mengajukan pertanyaan yang dilematis kepada Yesus, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" Yesus mengetahui niat sesungguhnya di balik pertanyaan mereka, yaitu untuk menjerumuskan diri-Nya.
Yesus menjawab dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Jika dijawab 'tidak wajib' berarti Yesus tidak menuruti perintah penguasa negeri. Jika dijawab 'wajib membayar pajak kepada Kaisar' konsekuensinya akan cukup berat. Yesus bisa saja dijauhi oleh bangsanya dan dituduh sebagai pengkhianat bangsa Yahudi, karena memihak kepada penjajah Romawi yang berlaku tidak adil. Maka jawaban-Nya, "Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah!"
Jawaban Yesus menegaskan bahwa ada ruang yang membedakan antara loyalitas kepada negara dan kesetiaan kepada Allah. Kita harus taat pada aturan negara, tetapi tetap kritis bila aturan itu bertentangan dengan keadilan dan kasih seperti yang Tuhan ajarkan. Kewajiban sipil harus dilihat dalam terang keadilan sosial. Perlu memastikan bahwa kebijakan publik tidak semakin membebani yang lemah, melainkan memberi ruang bagi mereka untuk hidup bermartabat.
Suatu tindakan yang bijaksana memerlukan hati yang bersih dan penuh kasih. Tidak semata-mata karena hukum mengatur, lalu hati menjadi buta. Memang pergumulan batin yang tidak mudah. Namun dengan fokus pada kasih yang Allah anugerahkan, segala aturan dunia disikapi dengan bijaksana.
Ini mengingatkan saya pada perjalanan hidup tokoh dunia seperti Frank Caprio, si 'Hakim Paling Baik Hati di Dunia'. Ia dihormati bukan hanya karena jabatan, tetapi karena cara ia memperlakukan orang dengan welas asih dan keadilan di atas segala peraturan dunia yang kaku.
Sebagai warga Kerajaan Allah yang hidup di dunia, kita harus berlaku sebagai anak-anak Allah yang meneladani dan membawa sifat-sifat dan karakter Allah; antara lain berlaku benar, berkata jujur, tidak menyusahkan orang lain, penuh kasih, dan sebagainya.
Sekarang, bagaimana kita sebagai orang beriman, menyeimbangkan tanggung jawab sebagai warga negara dengan panggilan spiritual kita? Semoga Roh Kudus memberi kita hikmat dalam mengambil keputusan.
Doa:
Allah Bapa Yang Maha Kasih, curahkanlah rahmat kasih-Mu agar kami dapat menjadi anak-Mu, seorang warga negara yang beriman. Semoga keputusan-keputusan sosial kami membawa kemuliaan nama-Mu yang lebih besar. Amin.

Komentar
Posting Komentar