(Renungan) Yesus Memulihkan yang Tersingkir

Yesus Memulihkan yang Tersingkir
(Rm. Hardijantan Dermawan, Pr)

Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah tahir” (Mat. 8:3a)

Kalender Liturgi Jumat, 26 Juni 2026
Bacaan Pertama: 2Raj. 25:1-12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 137:1-2.3.4-5.6
Bacaan Injil: Mat. 8:1-4

Lalu Yesus turun dari bukit. Sekarang Ia diikuti oleh banyak orang. Nah, Ia menghadapi realitas sesungguhnya, seorang penyakit kulit yang menajiskan, dinamakan sakit kusta. Penyakit itu membuat orang tidak bisa masuk ke rumah ibadat, Sinagoga, apalagi Bait Allah. Penyakit yang membuat orang mengalami kesendirian, kesepian, penolakan, disingkirkan dan dibuang dari komunitas yang sehat. Ia putus asa. Padahal yang lain bisa masuk, bahkan orang kerasukan pun diizinkan.

Satu-satunya pertolongan adalah Yesus. Si kusta datang dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menahirkan aku.” Masakan Yesus tidak mau menyembuhkan padahal orang itu sudah memohonnya dengan rendah hati? Bukankah Ia baru saja mengajarkan cinta kasih dan bela rasa? Dengan daya cinta dan kekuatan salib, Yesus bersabda, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika si sakit kusta sembuh, kulitnya halus. Yesus mengembalikan martabat si kusta. Yesus menempatkannya kembali ke komunitas. Yesus memulihkan bagian dari hidupnya yang putus asa itu. Yesus masih mengingatkan perihal apa yang harus dilakukan dalam hukum Taurat. Yesus mengajak untuk menghayati Mazmur, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mzm. 116:12). 

Kisah mukjizat yang terjadi di luar rumah Tuhan itu mengingatkan, bahwa tidak ada satu pun keadaan yang berada di luar kuasa Allah. Bilamana kita mau datang kepada-Nya dengan rendah hati, bahkan hati yang remuk redam pun, Tuhan akan memulihkannya. Ia akan menyembuhkan luka-luka hati. 

Seorang guru kimia terbang ke India untuk mengisi liburannya. Ia memakai uang pribadinya, pergi ke desa komunitas orang kusta. Ia mengajarkan mereka untuk membuat minyak dari tanaman lokal. Tujuannya untuk mengurangi penyakit kusta mereka. Lalu, ia menceritakan kepada seorang kawan. Mendengar sharing dan pengalaman guru kimia itu, hatinya tersentuh. Si kawan itu berujar, “Sekarang saya paham benar, bagaimana Yesus sendiri mengasihi orang kusta yang dikisahkan dalam Injil.” 

Kita boleh bertanya dan berkata, “Beranikah kita bahwa hidup ini sesungguhnya untuk mereka yang membutuhkan kita? Ataukah kita masih egois?” 

Doa:
Ya Tuhan, Engkau suka pada pribadi-pribadi yang rendah hati. Engkau tak pernah menolak hati yang remuk redam dan patah hati. Tuhan, kami mau datang kepada-Mu, memohonkan pemulihan dan kesembuhan luka. Kuatkanlah kaki-kaki yang lemah pula. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah