(Renungan) Balok dan Serpihan Kayu

Balok dan Serpihan Kayu
(L. Janti Krestina)

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, setelah itu engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.
(Mat. 7:5)

Kalender Liturgi Senin, 22 Juni 2026
Bacaan Pertama: 2 Raj. 17:5-8.13-15a.18
Mazmur Tanggapan: 60:3.4-5.12-13; R:7b
Bacaan Injil: Mat. 7:1-5

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang berkuasa atas seluruh bumi serta isinya, dan menurut gambar Allah. Namun manusia  lemah, tidak luput dari dosa dan kesalahan. Dari kitab Kejadian, kita belajar dari dosa Adam dan Hawa, serta akibatnya-hubungan manusia dan Allah menjadi jauh. Kita perlu bertobat, menerima konsekuensinya/penitensi untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah, serta berusaha tidak berbuat dosa lagi. 

Namun kedagingan manusia yang cenderung sombong, rasa iri, merasa paling benar; bisa jatuh dalam keinginan menghakimi sesama. Sedangkan seharusnya  penghakiman adalah hak Allah Yang Maha Kuasa. Kita adalah hamba yang seharusnya taat dan melayani Tuhan.  Kita diajarkan Tuhan, juga semua orang kudus untuk selalu rendah hati di dalam setiap perbuatan. Mampukah kita? 

Suasana pagi yang hening, malam yang sunyi, suara angin menyentuh dedaunan; seringkali menjadi saat yang menyentuh hatiku merasakan rahmat Tuhan. Lewat merenungkan firman Tuhan, merefleksi diri, berdoa setiap bangun dan menjelang tidur di dalam keheningan, saya mengalami sentuhan Roh Kudus-menyadari apa dan bagaimana seharusnya saya bersikap  pada sesama, kesalahan apa yang telah saya perbuat yang sudah menyakiti orang lain, bagaimana saya harus  memperbaikinya.  

Balok mudah terlihat, bahkan dari jauh. Sebaliknya, serpihan kayu yang halus nyaris tak terlihat dari jauh. Perumpamaan ini mengajarkan kita agar memperbaiki diri sendiri, sebelum menyampaikan saran dan kritik pada sesama. Bukan sebaliknya sibuk mengkritik kesalahan kecil orang lain, sedangkan dosa besar diri sendiri diabaikan. Kita menjadi munafik seperti kaum Farisi dan ahli taurat, pandai berkata namun tidak melakukan. 

Marilah kita merenungkan ajaran Tuhan, agar jangan menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi seperti ukuran yang kamu pakai. 

Doa:
Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami rendah hati, mampu melihat kelemahan diri sendiri, mau lembut hati memperbaiki, dan menjadi teladan sesama. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah