(Renungan) Efata dan Terbukalah

Efata dan Terbukalah
(Maria Theresia Widyastuti)



Kemudian sambil menengadah ke langit   Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! 
(Markus 7 : 34)



Kalender Liturgi Jumat, 11 Februari 2022
Bacaan Pertama     : 1 Raja-Raja 11 : 29-32; 12:19
Mazmur Tanggapan : Mzm 81 : 10-11ab. 12-13.14-15
Bacaan Injil : Mrk 7 : 31 - 37

Proses yang dilakukan Yesus saat menyembuhkan orang tuli dan gagap di Dekapolis yang dikisahkan oleh Markus sangatlah mencengangkan.  Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.  Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya:  Terbukalah!.
Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik dan bahkan menjadi pewarta kabar baik atas kesembuhannya yang dilakukan oleh Yesus. 

Yang lebih mencengangkan adalah Yesus melakukan penyembuhan ini di Dekapolis, sepuluh kota yang dalam kekelaman sejarahnya, membuat kota dan penduduknya kafirkan oleh orang Yahudi. Namun Kondisi itu tidak menghalangi Yesus untuk datang kepada kaum marginal yang di nilai kurang baik oleh manusia. 

Apa yang ingin disampaikan oleh Yesus adalah kasihNya tiada batas dan menembus batas-batas orang Yahudi yang mengkafirkan suatu kota juga menembus batas-batas politis yang ada saat itu. 

Efata tidak hanya berarti terbuka telinga dan pengikat lidah orang yang disembuhkan tetapi juga doa Yesus agar terbukalah telinga, pikiran dan mulut orang-orang Yahudi akan kota dan penghuninya yang dimarginalkan. Efata membawa kesembuhan, kebaikan dan kebesaran karya Allah serta harapan agar orang-orang Yahudi paham akan apa yang dicontohkan oleh Yesus.

Peristiwa Efata terjadi dalam hidup saya, saat saya membina kelompok UMKM tuna rungu. Saya dibuat terpesona  melihat bagaimana  Tuhan banyak bekerja pada anak-anak muda tuna rungu ini, di tengah-tengah perjuangan hidup mereka. 
Sebagai pembimbing dan trainer bagi mereka, ternyata saya justru banyak belajar dari anak-anak muda tuna rungu itu. Bukan Tuhan yang membuka ikatan keterbatasan mereka tapi justru saya yang dibukakan, tidak hanya telinga tetapi juga mata dan hati saya. 

Sungguh cara Tuhan mendidik saya di luar yang saya mengerti. Saya dibuat lebih sabar, lebih peka dan lebih nyata melihat karya dan kasih Tuhan pada kaum marginal. 
Efata yang diucapkan Yesus sungguh terjadi pada saya “Terbukalah” maka terbukalah mata-hati saya.

 
Doa :

Tuhan Yesus, terima kasih dan puji syukur aku panjatkan kepadaMu karena aku Kau kayakan dengan berbagai pengalaman termasuk pengalaman bekerja dengan pelaku UMKM difable yang salah satunya adalah anak-anak muda tuna rungu. Engkau membukakan mata hatiku dan karenanya perkenankanlah Roh kebenaran selalu menuntun aku sehingga aku mampu mengolah apa yang Engkau berikan dan percayakan untuk mereka dan semakin membesarkan namaMU. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah