(Renungan) Percayakah Sepenuh Hati?
Percayakah Sepenuh Hati?
(Kresensia Aurelia Aida Kurniawan)
(Kresensia Aurelia Aida Kurniawan)
Tetapi perempuan itu menjawab : “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.
(Markus 7 : 28)
Kalender Liturgi Kamis, 10 Februari 2022
Bacaan Pertama : 1 Raj 11: 4-13
Mazmur Tanggapan : Mzm 106: 3-4,35-36,37,40
Bacaan Injil : Mrk 7:24-30
Teman saya memiliki 3 orang anak. Si bungsu, satu-satunya laki-laki, sangat diharapkan kelahirannya. Begitu lahir terdengar tangisannya yang kencang. Biasanya setelah bayi dibersihkan, diantar ke kamar ibu supaya mendapatkan ASI. Namun hal ini tidak dilakukan, karena ternyata sesaat setelah itu,si b ayi menjadi biru seluruh tubuhnya. Dokter menduga ada kelainan pada jantungnya. Segera si bayi dirawat di ICU, dan tak henti-hentinya mereka berdoa mohon agar Tuhan mendatangkan dokter terbaik. Si ibu percaya kalau Tuhan mengabulkan permohonan doanya untuk memiliki anak laki-laki, pastilah Tuhan juga akan menjaga bayinya.
Selang 2 hari, datanglah seorang dokter yang ternyata termasuk tim dokter kepresidenan. Mereka kaget dan terharu, karena Tuhan mendatangkan dokter jantung terbaik. Dokter mengatakan klep jantung si bayi belum berfungsi baik, sehingga oksigen yang dihirup, segera keluar lagi alias gembos. Biasanya klep itu akan menutup dengan sendirinya. Dengan percaya sepenuh hati, si ibu tetap tekun berdoa. Delapan hari kemudian, akhirnya si bayi bisa pulang ke rumah.
Bacaan hari ini juga tentang seorang ibu yang begitu percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan anaknya dari kuasa roh jahat. Ibu ini bukan orang Yahudi tetapi orang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Yesus bukan bermaksud menghinanya dengan sebutan anjing. Sebab hampir setiap rumah memelihara anjing yang duduk di bawah meja ketika keluarga sedang makan. Anjing memakan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak. Setelah anak-anak kenyang, barulah sisa roti diberikan kepada anjing. Jadi maksud Yesus, Dia diutus terutama untuk orang Yahudi. Ibu ini sungguh mengerti, tapi ia tidak menyerah begitu saja. Ia mohon sedikit saja belas kasihan Yesus untuk kesembuhan anaknya, dengan kata kiasan remah-remah roti. Artinya ia percaya sepenuh hati pada-Nya. Yesus kagum akan iman ibu ini, maka Ia menyembuhkan anak itu.
Bagaimana dengan kita, percayakah kita sepenuh hati pada Yesus? Belajar dari pengalaman hidup orang lain dan pengalaman diri sendiri, saya sudah membuktikan bahwa percaya sepenuh hati dapat membuat mujizat terjadi.
Doa:
Yesus yang baik, kami mohon rahmat iman. Agar dalam setiap perkara kehidupan, kami dapat percaya sepenuh hati pada-Mu. Supaya Engkau dapat membuat mujizat yang pasti mendatangkan kebaikan. Engkaulah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai hidup kami. Amin.
Komentar
Posting Komentar