(Renungan) Memberikan Pipi Kiri
Memberikan Pipi Kiri
(Juwati Darmawidjaja)
(Juwati Darmawidjaja)
Tapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
(Mat 5:39)
PW S. Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama : 1 Raj. 21:1-16
Mazmur Tanggapan : Mzm. 5:2-3.5-6.7
Bacaan Injil : Mat. 5:38-42
Baru-baru ini kita dikejutkan oleh berita pengeroyokan dan penganiayaan di depan Gedung Parlemen. Konon disebabkan oleh opini-opini korban yang berseberangan dengan kelompok penyerang. Rasa benci itu akhirnya menjadi dendam yang bermuara pada penganiayaan dan penghinaan. Harus diakui konsep ‘membalas’ merupakan dasar dari perilaku kita. Membalas dengan perbuatan yang sama, kalau memungkinkan dengan level yang lebih berat.
Dalam keseharian hidup, hukum balas dendam masih menjadi pilihan banyak orang. Kata-kata yang menyakitkan, akan dengan mudah dibalas dengan kata-kata yang menyakitkan. Tulisan yang menyudutkan, akan dengan mudah dibalas dengan tulisan yang memojokkan pula. Tindakan yang menghancurkan, akan segera dibalas dengan tindakan yang mendatangkan keburukan juga. Pada akhirnya, kita asyik berada dalam lingkaran permainan iblis.
Yesus tidak pernah menganjurkan sikap pasrah nan pasif terhadap kenyataan ini. Karena Kasih-Nya, Yesus tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini seturut anjuran penulis kitab Amsal yang berbunyi, “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu” (Ams 25:21-22).
Yesus menawarkan kepada kita hukum kasih. Sebuah hukum yang meminta kita untuk selalu menggunakan kekuatan kasih dalam menghadapi segala bentuk kejahatan. Orang-orang inspiratif menyebutnya, “The Golden Rule: Treat others the way you want to be treated”. Ini merupakan dasar utama hukum cinta kasih.
Kupandang salib yang tergantung di dinding. Di sana nampak jelas pengorbanan Tuhan Yesus, yang tidak hanya merelakan kedua pipi-Nya ditampar, melainkan seluruh tubuh-Nya telah dihancurkan, demi menebus dosa-dosaku dan dosa seluruh dunia. Salib-Nya menjadi tanda penghinaan dan kebencian yang dinyatakan oleh manusia. Namun Yesus tidak membenci orang-orang yang telah menyalibkan Dia, bahkan mendoakan mereka. Yesus telah memberikan contoh kepada kita, bagaimana melaksanakan ajaran-Nya yang paling sulit ini yaitu untuk tidak membalas ketika dihina dan disakiti dan untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka. Kini salib menjadi tanda kemenangan.
Doa:
Doa:
Tuhan, tambahkanlah di hati kami, kasih kepada-Mu, agar kami dapat mengasihi dan mengampuni sesama yang bersalah kepada kami. Jauhkan kami dari sikap ingin membalas terhadap orang-orang yang telah menyakiti kami. Juga bantulah kami agar kami dapat melayani sesama dengan tulus khususnya kepada mereka yang telah menyakiti kami. Amin.
Komentar
Posting Komentar