(Renungan) Cinta dan Pengorbanan

Cinta dan Pengorbanan
(Laurentia Linda)



“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” 
(Yohanes 12:24)



Kalender Liturgi Rabu, 10 Agustus 2022
Bacaan Pertama
 : 2 Kor. 9 : 6-10
Mazmur Tanggapan : Mzm. 112 : 1-2, 5-9
Bacaan Injil :   Yoh. 12 : 24-26


Hari ini adalah hari perayaan St. Laurensius , Diakon dan Martir, membaca kisah dan riwayat hidup Santo Laurensius sungguh sangat relevan dengan ayat Injil hari ini , “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati , ia tetap satu biji saja , tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (Yoh. 12:24). Kata kata Yesus ini merujuk pada diri-Nya sendiri. Kematian-Nya menghasilkan banyak buah, yaitu keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya dan mengikuti jalan-Nya. Tetapi selain merujuk kepada diri-Nya sendiri, kata-kata itu juga merujuk kepada para pengikut-Nya yang karena kerelaan mereka untuk mengorbankan hidup, maka Gereja menjadi berkembang, salah satunya adalah Santo Laurensius yang hari ini kita peringati pengorbanannya.

Kita sebagai umat Katolik, pengikut Yesus yang masih berziarah dalam dunia ini, tentunya dalam kehidupan keseharian kita telah menyaksikan, dan mengalami juga, bahwa sesuatu hal membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan para pahlawan membuahkan kemerdekaan bagi negaranya, untuk orang-orang yang kita kasihi kita rela melakukan apa saja untuk orang itu, sekalipun disertai pengorbanan. Kita tidak merasa sayang ataupun rugi untuk memberikan sebagian besar dari waktu, tenaga, pikiran dan harta bahkan seluruh diri kita untuk yang kita cintai. Apapun akan kita lakukan dan kita berikan untuk memastikan bahwa seseorang atau sesuatu yang kita cintai tetap dalam keadaan baik, tidak celaka atau rusak, apalagi binasa.  Seperti itulah cinta Allah kepada kita, Cinta yang sejati yang disertai dengan pemberian dan pengorbanan diri.

Kita memang tidak mungkin melakukan seperti yang dilakukan martir-martir yang hidup di awal-awal pembentukan Gereja, tetapi tentunya kita dapat berbuat sesuai kapasitas kita masing-masing. Marilah kita sungguh-sungguh menyadari bahwa kita adalah orang yang dicintai oleh Tuhan. Dan karena kita telah dicintai oleh Tuhan, marilah kita juga mencintai Tuhan dan sesama. Kita berani dan tidak ragu berkorban waktu, tenaga, pikiran, harta dll untuk Tuhan dan sesama. 


Doa : 

Bapa, bimbinglah kami selalu agar kami selalu menyadari betapa besar kasih-Mu kepada kami, sehingga kami juga dapat semakin mengasihi Engkau dan sesama kami. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah