(Renungan) Allah yang Selalu Menunggu
Allah yang Selalu Menunggu
(Patricia B.Y.)
Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman Tuhan, yang mengasihani engkau
(Yes. 54 : 10)
Kalender Liturgi Kamis, 15 Desember 2022
Bacaan Pertama : Yes. 54 : 1-10
Mazmur Tanggapan : Mzm. 30 : 2.4-6, 11-12a, 13b
Bacaan Injil : Luk. 7 : 24-30
Saya pernah mendengar kisah seorang pemilik perusahaan di mana salah satu koleganya adalah adik iparnya sendiri. Suatu ketika orang itu dikejutkan oleh temuan, bahwa adik iparnya ini ternyata melakukan korupsi. Sontak dia marah besar dan memutuskan hubungan kerja, bahkan hubungan persaudaraan antar dua keluarga. Betapa rapuhnya hubungan persaudaraan manusia.
Berpuluh-puluh tahun lamanya mereka bermusuhan dan tidak bisa saling memaafkan. Kondisi ini terus bertahan sampai keduanya berusia lanjut dan sakit-sakitan. Seorang kerabat mereka terpanggil menjadi juru damai lalu dengan berbagai upaya berusaha mendamaikan dua keluarga ini. Puji Tuhan mereka berhasil didamaikan walau tidak mudah melakukannya.
Kitab Suci Perjanjian Lama banyak mengisahkan bagaimana bangsa Israel telah mengkhianati mempelainya, yaitu Allah yang Esa. Mereka menyembah allah-allah lain karena pengaruh bangsa-bangsa di sekitarnya. Allah marah melihat hal ini. Puncak kemarahan Allah adalah pada saat Bangsa Israel dibuang ke Babilonia. Saat itu Bangsa Israel mengalami hidup yang sangat menderita.
Namun Allah tetap menyayangi umat pilihan-Nya walau bagaimanapun jahat perbuatannya. Ia tidak ingin kehilangan umat-Nya selamanya. Sehingga pengkhianatan bangsa Israel tidak membuat Allah putus asa untuk menarik kembali mereka menjadi milik-Nya. Dia menghukum manusia hanya sesaat saja, supaya manusia bertobat.
Manusia yang terkadang mempunyai sifat kejam. Bahkan ada dari kita yang sekali menemukan kesalahan, tidak bisa mengampuni bahkan hingga ajalnya datang. Manusia begitu keras hatinya, bahkan sekeras batu karang. Sedangkan Allah mempunyai hati yang lembut, bahkan sangat lembut. Allah tidak melihat dosa manusia, tetapi Allah malahan menunggu kedatangan umat-Nya yang bertobat. Saat-saat pertobatan manusia itu adalah saat yang paling ditunggu oleh Allah kita, karena Dia tak ingin umat-Nya musnah selamanya. Kasih setia Allah tetap untuk selamanya.
Sudahkah kita mempunyai hati seperti Allah yang lembut dan mudah memaafkan?
Doa :
Allah yang Maharahim, bantulah kami supaya mempunyai hati selembut hati-Mu yang mudah memaafkan dan menerima orang lain dengan penuh kasih. Amin.
https://teraskata.com/wp-content/uploads/2022/07/wisata-gunung-fuji-jepang.jpg
Komentar
Posting Komentar