(Renungan) Jangan Sia-Siakan Tawaran-Nya

Jangan Sia-Siakan Tawaran-Nya
(Nina Agustina) 



“Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya”
(Mat. 21 : 32)



Kalender Liturgi Selasa, 13 Desember 2022
Bacaan Pertama : Zef. 3 : 1-2, 9-13 
Mazmur Tanggapan : Mzm. 3 4: 2-3, 6-7, 17-18, 19 
Bacaan Injil : Mat. 21  :28-32


Ketika masih remaja, saya seringkali memberontak. Terasa beban jika orang tua meminta bantuan. Tak heran jika saya sering kali menolaknya. Bermain dengan teman-teman lebih menyenangkan daripada berlelah-lelah membantu orang tua. Saat saya menjadi orang tua, saya baru merasakan bagaimana rasanya jika anak saya tidak peduli ketika saya meminta bantuan.

Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan seorang ayah yang mempunyai dua anak laki-laki. Ia meminta si sulung untuk bekerja di kebun anggur. Si sulung menjawab “baik”. Sepertinya ia menurut. Namun kenyataannya ia tidak pergi. Si ayah meminta hal yang sama kepada si bungsu, namun  segera ditolak. Si bungsu kemudian menyesal dan akhirnya ia pergi ke kebun anggur. Ilustrasi yang sangat baik ini ingin mengatakan bahwa tindakan nyata untuk melakukan perintah Bapa lebih penting daripada hanya janji-janji kosong. Hal ini  juga untuk mengkritik dan menunjukkan sikap yang kurang serius dari para imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dalam hal iman dan kerohanian. Justru pemungut cukai dan perempuan sundal yang dicap orang Yahudi sebagai si pendosa lebih dipuji daripada para pemimpin agama. Karena orang-orang yang dianggap buruk, tidak taat pada ajaran agama, berani mengubah sikap mereka  dengan percaya akan warta pertobatan Yohanes Pembaptis. Sementara para pemimpin agama tidak.

Kembali pada diri kita, apakah kita sudah sungguh-sungguh menanggapi panggilan Tuhan  dengan melakukan kehendak-Nya? Atau kita seperti si sulung, yang hanya  berjanji ingin melakukan kehendak-Nya namun kenyataannya tidak. Melalui renungan ini kita diingatkan untuk segera menanggapi panggilan Tuhan dengan kesadaran penuh akan kasih Tuhan dalam hidup kita. Sudah sepantasnya kita menanggapi panggilan-Nya dengan hidup benar, setia, dan melakukan kehendak-Nya.


Doa :

Tuhan Yesus, murnikan hatiku agar tetap setia dan dapat  menanggapi panggilan-Mu dalam hidupku dengan sungguh-sungguh. Kiranya aku dapat hidup seturut kehendak-Mu dan tidak menyia-nyiakan tawaran keselamatan yang Engkau anugerahkan kepadaku.  Terima kasih Tuhan untuk kasih-Mu yang begitu besar dalam hidupku. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah