(Renungan) Pejuang Iman
Pejuang Iman
Doa:
Tuhan, sungguh tantangan yang luar biasa saat saya harus hidup sebagai pejuang iman dalam mengarungi kehidupan ini. Namun saya percaya Engkau sudah siapkan semuanya saat saya menjawab ya dan amin. Semoga Roh Kudus-Mu selalu menyertai saya dalam berproses dan memperjuangkan iman saya. Terima kasih Tuhan, aku mencintai-Mu. Amin.
(Maria Theresia Widyastuti)
Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu”
(Mrk. 7 : 29)
Kalender Liturgi Kamis, 9 Februari 2023
Bacaaan Pertama : Kej. 2 : 18 - 25
Mazmur Tanggapan : Mzm. 128 : 1-2, 3, 4-5
Bacaan Injil : Mrk. 7 : 24-30
Bacaaan Pertama : Kej. 2 : 18 - 25
Mazmur Tanggapan : Mzm. 128 : 1-2, 3, 4-5
Bacaan Injil : Mrk. 7 : 24-30
Membaca kisah perempuan Siro-Fenesia sangatlah menarik. Tidak hanya berkisah tentang iman seorang perempuan yang berjuang untuk anaknya tapi juga membuat kita melihat satu karakter Yesus yang luar biasa dalam menyikapi permasalahan socio-cultural.
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Yesus menggunakan metafora “anjing” yang bernada sarkasme pada seorang perempuan? Apakah karena masalah adat-istiadat Yahudi dalam kaitan dengan orang asing/kafir dan penyembuhan terhadap seorang non-Yahudi. Ataukah karena ada hal lain yang ingin ditunjukkan Yesus terkait dengan ujian keimanan?
Menurut pendapat saya, perempuan Siro-Fenesia tanpa nama itu merupakan seorang pejuang iman yang luar biasa. Hal itu ditunjukkan ketika menerima kata-kata sarkasme pun ia mampu bertahan dan percaya hanya Yesus yang dapat menyembuhkan anaknya.
Kisah mengenai perempuan Siro-Fenisia juga menjelaskan bahwa agama harus dibedakan dari iman. Yesus dan perempuan itu berbeda bangsa dan agama tetapi satu dalam iman. Memang tidak dikatakan mengenai agama perempuan itu. Tetapi dalam kebudayaannya pasti ada unsur keagamaan yang berbeda dengan agama orang Yahudi.
Saya memiliki sahabat yang juga adalah seorang pejuang iman. Ia seorang ibu yang sangat berduka karena anaknya baru saja didiagnosa menderita autoimmune yang mengarah ke penyakit Lupus. Dalam percakapan dengan saya, ia mengatakan bahwa ia menyadari segala pengetahuan tentang Kitab Suci yang didapatnya selama kursus tiga tahun itu hanyalah sebatas pengetahuan karena tidak bisa menjawab pertanyaan akan apa yang terjadi pada anaknya. Pertanyaan dirinya hanya dapat dijawab oleh iman dan spiritualitas. Pengetahuan dan spritualitas selama ini ternyata berjalan seperti rel kereta api yang bersebelahan. Seharusnya keduanya saling melengkapi. Setelah berproses maka akhirnya ia dapat memahami peristiwa iman yang Tuhan inginkan dan berusaha berjuang menanggapinya dengan cara iman.
Sanggupkah saya juga menjadi pejuang iman seperti perempuan Siro-Fenisia dan sahabat saya yang hidupnya tidak hanya beragama namun beriman dan percaya akan Dia yang memberikan keselamatan kekal?
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Yesus menggunakan metafora “anjing” yang bernada sarkasme pada seorang perempuan? Apakah karena masalah adat-istiadat Yahudi dalam kaitan dengan orang asing/kafir dan penyembuhan terhadap seorang non-Yahudi. Ataukah karena ada hal lain yang ingin ditunjukkan Yesus terkait dengan ujian keimanan?
Menurut pendapat saya, perempuan Siro-Fenesia tanpa nama itu merupakan seorang pejuang iman yang luar biasa. Hal itu ditunjukkan ketika menerima kata-kata sarkasme pun ia mampu bertahan dan percaya hanya Yesus yang dapat menyembuhkan anaknya.
Kisah mengenai perempuan Siro-Fenisia juga menjelaskan bahwa agama harus dibedakan dari iman. Yesus dan perempuan itu berbeda bangsa dan agama tetapi satu dalam iman. Memang tidak dikatakan mengenai agama perempuan itu. Tetapi dalam kebudayaannya pasti ada unsur keagamaan yang berbeda dengan agama orang Yahudi.
Saya memiliki sahabat yang juga adalah seorang pejuang iman. Ia seorang ibu yang sangat berduka karena anaknya baru saja didiagnosa menderita autoimmune yang mengarah ke penyakit Lupus. Dalam percakapan dengan saya, ia mengatakan bahwa ia menyadari segala pengetahuan tentang Kitab Suci yang didapatnya selama kursus tiga tahun itu hanyalah sebatas pengetahuan karena tidak bisa menjawab pertanyaan akan apa yang terjadi pada anaknya. Pertanyaan dirinya hanya dapat dijawab oleh iman dan spiritualitas. Pengetahuan dan spritualitas selama ini ternyata berjalan seperti rel kereta api yang bersebelahan. Seharusnya keduanya saling melengkapi. Setelah berproses maka akhirnya ia dapat memahami peristiwa iman yang Tuhan inginkan dan berusaha berjuang menanggapinya dengan cara iman.
Sanggupkah saya juga menjadi pejuang iman seperti perempuan Siro-Fenisia dan sahabat saya yang hidupnya tidak hanya beragama namun beriman dan percaya akan Dia yang memberikan keselamatan kekal?
Doa:
Tuhan, sungguh tantangan yang luar biasa saat saya harus hidup sebagai pejuang iman dalam mengarungi kehidupan ini. Namun saya percaya Engkau sudah siapkan semuanya saat saya menjawab ya dan amin. Semoga Roh Kudus-Mu selalu menyertai saya dalam berproses dan memperjuangkan iman saya. Terima kasih Tuhan, aku mencintai-Mu. Amin.
https://www.suarawajarfm.com/wp-content/uploads/2015/02/Perempuan-Siro-Fenisia.jpg
Komentar
Posting Komentar