(Renungan) Hamba Jadi Sahabat
Hamba Jadi Sahabat
(Julius Saviordi)
(Julius Saviordi)
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
(Yoh. 15 : 15)
Kalender Liturgi Jumat, 12 Mei 2023
Bacaan Pertama: Kis. 15 : 22-31
Mazmur Tanggapan: Mzm. 57 : 8-9, 10-12
Bacaan Injil: Yoh. 15 : 12-17
Bacaan Pertama: Kis. 15 : 22-31
Mazmur Tanggapan: Mzm. 57 : 8-9, 10-12
Bacaan Injil: Yoh. 15 : 12-17
Selama saya bekerja di berbagai perusahaan selama lebih dari 30 tahun, saya sudah pernah mengalami menjadi hamba (bawahan) yang diperlakukan sebagai sahabat. Saya pernah juga menjadi hamba (karyawan) dari seorang sahabat saya. Dari pengalaman pribadi saya, lebih menyenangkan yang pertama.
Suasana kerja yang awalnya didorong untuk memenuhi tugas-tugas sebagai bawahan, secara bertahap berubah menjadi suasana bekerja bersama untuk mengerjakan tugas sebagai sebuah departemen dan bersama-sama membangun perusahaan.
Di lingkungan kaisar-kaisar Romawi maupun raja-raja di Timur ada sekelompok orang yang terpilih yang disebut sahabat-sahabat raja atau sahabat-sahabat kaisar. Mereka dapat datang setiap waktu kepada raja. Bahkan diberi hak untuk datang ke kamar tidur raja pada pagi hari. Raja bercakap-cakap dengan mereka sebelum ia bicara dengan para jenderalnya, para pejabat pemerintahan, dan para diplomatnya. Sahabat-sahabat raja adalah mereka yang mempunyai hubungan yang paling dekat dan akrab dengan raja.
Dalam bacaan Injil hari ini, di dalam perjamuan terakhir, Tuhan Yesus menyatakan bahwa murid-murid-Nya tidak lagi disebut sebagai hamba, melainkan sebagai sahabat-Nya. Berarti menjadi seorang sahabat Allah. Sebelumnya hanya Abraham yang disebut sebagai “Sahabat Allah” (Yak 2:23) karena Abraham telah menunjukkan iman dengan perbuatan yang menunjukkan kesetiaan dan ketaatan-Nya pada Allah.
Seorang hamba biasanya hanya memiliki kewajiban menuruti perintah dari majikannya. Seorang hamba tidak punya hak bicara atau berpendapat. Seorang hamba yang dijadikan sahabat tentulah sudah melewati proses panjang.Ketaatan dan integritasnya sudah teruji. Sudah melewati berbagai momen kesusahan bersama-sama. Motivasinya sudah sesuai dengan visi tuannya.
Murid-murid Yesus juga sudah melewati masa-masa kebersamaan dengan Tuhan Yesus, Yesus sudah melihat iman, harapan dan kasih mereka. Mereka layak diangkat sebagai sahabat-Nya.
Bagaimana dengan kita? Mungkin kita sudah sering menyebut Yesus sebagai “sahabat”. Tetapi sudahkan iman dan perbuatan kita teruji bagi Yesus? Apakah kita sudah layak disebut sebagai “sahabat Yesus”? Mari kita makin bertekun dalam iman dan kasih kepada Tuhan dan sesama. Sehingga kita layak disebut sebagai sahabat-Nya.
Doa:
Tuhan Yesus bimbinglah aku untuk bertekun dalam iman, harapan, dan kasih. Supaya aku layak menjadi sahabat-Mu. Amin.
https://www.fakta.id/media/uploads/4/e3d32193454ee99aaf6c9525f429274b.jpg

Komentar
Posting Komentar