(Renungan) Teguran Penuh Kasih

Teguran Penuh Kasih
(Melani Sudhana)


Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali
 (Mat.18 : 15b)


Kalender Liturgi Minggu, 10 September 2023
Bacaan Pertama : Yeh. 33 : 7-9
Mazmur Tanggapan : Mzm. 95 : 1-2, 6-7, 8-9
Bacaan Kedua : Rom. 13 : 8-10
Bacaan Injil : Mat. 18 : 15-20


Manusia cenderung lebih suka membicarakan keburukan orang lain dari pada kebaikannya. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang ada maka kita semakin mudah menyebarkan keburukan orang lain hanya dengan menekan satu tombol HP. Saat ini kita juga lebih mudah menjerumuskan seseorang dengan stigma sebagai orang bersalah yang pantas diadili bukan ditolong.

Salah satu ajaran Yesus adalah tentang sikap jika ada saudara atau teman yang berbuat suatu kesalahan atau dosa. Yesus tidak menginginkan kita bertindak menghakimi, tapi mengajaknya bicara empat mata, supaya kita bicara dari hati ke hati dengan penuh kasih. Pembicaraan berjalan dengan kepala dingin karena Roh Kudus menyertai kita dan diharapkan saudara kita mendengarkan nasihat kita dan tidak lagi berbuat kesalahan atau dosa lagi. Jika tidak berhasil kita bisa mengajak teman lain yang kiranya bisa diterima nasihatnya. 

Ajaran Yesus menggambarkan Allah kita yang adalah Allah yang penuh kasih. Manusialah yang lebih sering main hakim sendiri. Jika Allah saja mau menerima kita orang berdosa yang mau menyadari kedosaan kita, bagaimana dengan kita kepada saudara yang bersalah?

Suatu hari saya mendengar dari beberapa teman bahwa seorang teman kami mempunyai PIL (Pria Idaman Lain). Saya sudah lama tidak bertukar kabar dengannya sejak pindah kerja. Saya mencoba menghubunginya dan mengajak makan siang bersama. Saat makan siang kami ngobrol, melepas rindu dan saya terlupa untuk menanyakan tentang gosip PIL tersebut. Pertemuan-pertemuan berlanjut dan dia mulai curhat tentang hidup rumah tangganya. Saya dengan pelan-pelan menasihatinya dan memintanya untuk berbicara dengan suami dari hati ke hati untuk membangun kembali tali kasih yang dulu telah mereka rangkai. Dan saya menasihatinya untuk tidak lagi curhat ke teman pria. Saya berjanji untuk siap mendengarkan curhatnya dan mendoakannya. Puji syukur kepada Tuhan, kehidupan rumah tangganya berangsur membaik. 

Saya percaya kasih Tuhan selalu menyertai mereka sekeluarga. Dan saya bersyukur boleh menjadi perantara kasih Tuhan untuk membawa dia kembali dan terhindar dari perbuatan dosa.


Doa: 

Ya Tuhan, puji dan syukur atas kasih-Mu di sepanjang hidupku. Pimpinlah aku selalu dalam Roh Kudus agar boleh menjadi pembawa kasih-Mu bagi orang lain dan menjadi penunjuk jalan-Mu kepada mereka. Amin.


https://images.pexels.com/photos/5710193/pexels-photo-5710193.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&w=1260&h=750&dpr=1



Komentar