(Renungan) Najis dan Kudus
Najis dan Kudus
(Fidensius Gunawan)
Kalender Liturgi Selasa, 6 Februari 2024
Bacaan Pertama : 1Raj. 8:22-23. 27-30
Mazmur Tanggapan : Mzm. 84:3. 4. 5. 10. 11
Bacaan Injil : Mrk. 7:1-13
Pasti kita masih ingat akan pesan 3M. Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Selama masa pendemi bahkan hingga saat ini, anjuran 3M terus digaungkan, karena memang bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Imbauan mencuci tangan ditindaklanjuti. Maka di mana-mana, termasuk di gereja-gereja disediakan atau dibangun tempat mencuci tangan dalam jumlah banyak. Sabun cair disiapkan, tisu dilengkapi. Sehingga umat saat datang untuk Misa, dapat mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk gereja.
(Fidensius Gunawan)
“Perintah Allah, kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.”
(Mrk. 7:8)
Kalender Liturgi Selasa, 6 Februari 2024
Bacaan Pertama : 1Raj. 8:22-23. 27-30
Mazmur Tanggapan : Mzm. 84:3. 4. 5. 10. 11
Bacaan Injil : Mrk. 7:1-13
Pasti kita masih ingat akan pesan 3M. Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Selama masa pendemi bahkan hingga saat ini, anjuran 3M terus digaungkan, karena memang bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Imbauan mencuci tangan ditindaklanjuti. Maka di mana-mana, termasuk di gereja-gereja disediakan atau dibangun tempat mencuci tangan dalam jumlah banyak. Sabun cair disiapkan, tisu dilengkapi. Sehingga umat saat datang untuk Misa, dapat mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk gereja.
Sebenarnya kita sudah diajarkan mencuci tangan sejak kecil, terutama sebelum makan. Tentu ini baik bagi kesehatan kita. Jadi mengapa Yesus seolah membela diri ketika ditegur oleh orang-orang Farisi, terkait para pengikutnya yang makan dengan tangan najis? Bagi orang-orang Farisi, najis berarti tidak kudus. Harus dihindari.
Kita tahu bahwa orang-orang Farisi menegur Yesus dengan menggunakan aturan turunan Hukum Taurat. Ada begitu banyak aturan yang harus ditaati orang-orang Yahudi, demi menjaga kekudusan bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan. Orang Farisi yang sangat menguasai aturan Taurat bertindak selayaknya polisi sekaligus hakim, menegur dan menghukum siapa saja yang dinilai melanggar. Celakanya, mereka terlalu kaku dan membabi buta, tidak memperhitungkan keterbatasan orang lain.
Inilah yang membuat Yesus geram. Yesus balik mengecam dan menegur mereka akan kemunafikan dan kelicikan mereka dalam kehidupan sehari-hari. "Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang” (ayat 8), dilanjutkan dengan fakta pelanggaran pada ayat 9-12.
Bagi Yesus, hal-hal najis justru harus dirangkul. Dia tidak ragu bergaul dengan pemungut cukai, orang kusta, pelacur dan membawa mereka masuk dalam pertobatan, menjadikan mereka kudus. Kekudusan bagi Yesus jauh lebih luas dari sekedar cuci tangan sebelum makan atau membasuh diri setelah pulang dari perjalanan.
Bagi kita saat ini, baik untuk berefleksi, apakah kita terlalu fokus pada hal remeh-temeh dan mencari kesalahan orang? Atau kita berusaha melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang lebar dan mencoba menemukan hal-hal positif?
Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah kami memahami segala sesuatu dengan sudut pandang-Mu. Biarlah apa yang kami lakukan mencerminkan kasih-Mu. Amin.
Komentar
Posting Komentar