(Renungan) Keteguhan Iman
Keteguhan Iman
(Dewi Malingkas)
(Dewi Malingkas)
Sebab, Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak diperbolehkan bagimu mengambil istri saudaramu!”
(Mrk. 6:18)
Kalender Liturgi Jumat, 7 Februari 2025
Bacaan Pertama : Ibr. 13:1-8
Mazmur Tanggapan : Mzm. 27:1. 5. 5. 8b-9abc
Bacaan Injil : Mrk. 6:14-29
Raja Herodes memiliki hubungan yang unik dengan Yohanes Pembaptis. Meskipun Herodes memenjarakan Yohanes, ia sebenarnya menghormati dan takut kepada Yohanes karena menganggapnya sebagai orang benar dan suci. Herodes sering mendengarkan Yohanes, walaupun ia merasa gelisah. Sebab herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Ketika ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia." (Mrk. 6:20)
Hubungan Yohanes Pembaptis dengan Raja Herodes yang unik ini adalah contoh kontras antara integritas dan kelemahan. Yohanes, seorang sosok yang berani, teguh dalam iman, dan tidak takut menyuarakan kebenaran, meskipun itu membahayakan nyawanya. Herodes, meskipun menghormati Yohanes, terjebak dalam kelemahan manusiawi; ingin menyenangkan orang lain, mempertahankan citra sosial, dan menghindari konflik dengan Herodias, istrinya.
Kisah ini mengajarkan pentingnya keteguhan iman seperti yang ditunjukkan oleh Yohanes serta bahaya menyerah pada tekanan sosial atau keinginan manusiawi seperti yang dialami oleh Herodes.
Seorang teman, pernah diberi mandat oleh atasannya untuk mencari informasi mengenai kecurigaan 'fraud' yang dilakukan oleh seorang rekan senior yang cukup dekat dengannya dan cukup popular di kalangan rekan-rekan kerja lainnya. Ia menghadapi pilihan seperti makan buah simalakama. Di satu sisi mandat yang diberikan untuk mencari kebenaran, di sisi lain ia seakan “mengorbankan” rekan kerjanya. Meski menyadari risiko akan dicemooh oleh para rekan sekerja, teman saya memilih melakukan mandat.
Risiko yang dikhawatirkan terjadi. Teman saya mengalami tekanan sosial di lingkungan kerjanya. Namun, berdasarkan informasi yang ia berikan, perusahaan mendapatkan bukti yang kuat akan kecurigaan tindakan 'fraud' tersebut. Hal ini memungkinkan pihak perusahaan terhindar dari kerugian lebih besar dan pengurangan karyawan. Perlahan, rekan-rekan kerja lainnya mulai menyadari hal tersebut, dan integritas yang ditunjukkan oleh teman saya pun berangsur-angsur dihargai.
Di zaman sekarang, sering kita lebih memilih tindakan populis agar tidak mendapat tekanan sosial, tanpa mempedulikan integritas. Beranikah kita untuk selalu berpegang teguh pada iman?
Doa:
Tuhan yang Maha Kasih, puji syukur atas firman-Mu yang membuka mataku untuk berani dan teguh dan dalam iman. Tetap menjaga integritas, dan bukan menjadi gagap karena tekanan sosial. Sertailah aku selalu, ya Tuhan, agar mampu berjalan dalam keteguhan iman. Terima kasih Tuhan. Amin.

Komentar
Posting Komentar