(Renungan) Menyentuh-Nya saja Menjadi Sembuh
Menyentuh-Nya saja Menjadi Sembuh
(M. Maria Novita)
Kalender Liturgi Senin, 10 Februari 2025.
(M. Maria Novita)
Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya,
supaya diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja.
Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh.
(Mrk. 6:56)
Kalender Liturgi Senin, 10 Februari 2025.
Bacaan Pertama : Kej. 1: 1-19
Mazmur Tanggapan : Mzm. 104:1-2a. 5-6. 10. 12..24, 35c
Bacaan Injil : Mrk. 6:53-56
Injil hari ini berkisah tentang Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret. Ketika perahu-Nya berlabuh di sana, orang-orang segera mengenali Yesus. Mereka berlari ke segala penjuru untuk menjemput orang-orang sakit, lalu membawanya kepada Yesus, di mana pun terdengar Yesus berada.
Orang-orang sakit diletakkan di pasar. Pada jaman itu, pasar terletak di tempat-tempat terbuka, atau di persimpangan-persimpangan jalan. Tempat dijumpai kegiatan jual-beli segala keperluan hidup, termasuk saling bertemu untuk berbincang atau menghabiskan waktu. Terutama hari persiapan memasuki hari Sabat bagi orang Yahudi. Di pasarlah, mereka memohon diperkenankan menyentuh-Nya walaupun hanya jumbai jubah. Dengan iman, semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh.
Aku teringat peristiwa 23 tahun silam. Dengan tujuan hidup sehat, suamiku berdiet ketat sehingga mengalami penurunan berat badan terlalu cepat. Alih-alih sehat, ia tampak pucat, setiap sore diserang kecemasan berlebihan, tidak bisa tidur selama beberapa malam, sampai beberapa kali masuk rumah sakit tanpa terdiagnosa penyakitnya. Sempat ke psikiater, pengobatan reiki, bahkan minum air abu hu pun ditempuh demi mencari kesembuhan.
Sampai suatu ketika di saat penuh keputusasaan, ia berjumpa dengan seseorang yang menyampaikan firman Tuhan berupa kutipan ayat Injil Matius 6:26 (perihal: jangan takut/khawatir). Tiba-tiba ia tersentak dan melihat sumber pengharapan sejati, yaitu Tuhan Yesus.
Sebagai orang Katolik, kami melupakan iman kami. Bukankah Yesus adalah tabib yang terbaik? Rupanya keluhan-keluhan penyakit dan permainan pikiran ketakutan telah menggiring kami ke dalam lingkaran kekhawatiran, dengan terus memburu pengobatan non-iman. Sejak hari itu, dengan penuh pengharapan, kami bertekun dalam doa, menyambut Ekaristi, dan menyadari jerat kekhawatiran tak beralasan selama ini. Akhirnya suamiku perlahan-lahan dipulihkan dan disembuhkan.
Semua orang di Genesaret yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. Adakah imanku selalu seteguh mereka, sehingga setiap menghadapi persoalan hidup, aku tetap yakin dengan menyentuh-Nya saja menjadi sembuh? Menyentuh-Nya berarti datang dan berharap serta hanya mengandalkan Dia yang penuh kasih dan kuasa.
Doa:
Bapa yang Maha Kasih, ketika tinggal di dalam Engkau, Engkau menjadi sumber pengharapan. Karena belas kasih-Mu, hidup kami dipulihkan, disembuhkan, jasmani maupun rohani. Sesungguhnya Engkaulah tabib terbaik dan terhebat. Amin.
Mazmur Tanggapan : Mzm. 104:1-2a. 5-6. 10. 12..24, 35c
Bacaan Injil : Mrk. 6:53-56
Injil hari ini berkisah tentang Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret. Ketika perahu-Nya berlabuh di sana, orang-orang segera mengenali Yesus. Mereka berlari ke segala penjuru untuk menjemput orang-orang sakit, lalu membawanya kepada Yesus, di mana pun terdengar Yesus berada.
Orang-orang sakit diletakkan di pasar. Pada jaman itu, pasar terletak di tempat-tempat terbuka, atau di persimpangan-persimpangan jalan. Tempat dijumpai kegiatan jual-beli segala keperluan hidup, termasuk saling bertemu untuk berbincang atau menghabiskan waktu. Terutama hari persiapan memasuki hari Sabat bagi orang Yahudi. Di pasarlah, mereka memohon diperkenankan menyentuh-Nya walaupun hanya jumbai jubah. Dengan iman, semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh.
Aku teringat peristiwa 23 tahun silam. Dengan tujuan hidup sehat, suamiku berdiet ketat sehingga mengalami penurunan berat badan terlalu cepat. Alih-alih sehat, ia tampak pucat, setiap sore diserang kecemasan berlebihan, tidak bisa tidur selama beberapa malam, sampai beberapa kali masuk rumah sakit tanpa terdiagnosa penyakitnya. Sempat ke psikiater, pengobatan reiki, bahkan minum air abu hu pun ditempuh demi mencari kesembuhan.
Sampai suatu ketika di saat penuh keputusasaan, ia berjumpa dengan seseorang yang menyampaikan firman Tuhan berupa kutipan ayat Injil Matius 6:26 (perihal: jangan takut/khawatir). Tiba-tiba ia tersentak dan melihat sumber pengharapan sejati, yaitu Tuhan Yesus.
Sebagai orang Katolik, kami melupakan iman kami. Bukankah Yesus adalah tabib yang terbaik? Rupanya keluhan-keluhan penyakit dan permainan pikiran ketakutan telah menggiring kami ke dalam lingkaran kekhawatiran, dengan terus memburu pengobatan non-iman. Sejak hari itu, dengan penuh pengharapan, kami bertekun dalam doa, menyambut Ekaristi, dan menyadari jerat kekhawatiran tak beralasan selama ini. Akhirnya suamiku perlahan-lahan dipulihkan dan disembuhkan.
Semua orang di Genesaret yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. Adakah imanku selalu seteguh mereka, sehingga setiap menghadapi persoalan hidup, aku tetap yakin dengan menyentuh-Nya saja menjadi sembuh? Menyentuh-Nya berarti datang dan berharap serta hanya mengandalkan Dia yang penuh kasih dan kuasa.
Doa:
Bapa yang Maha Kasih, ketika tinggal di dalam Engkau, Engkau menjadi sumber pengharapan. Karena belas kasih-Mu, hidup kami dipulihkan, disembuhkan, jasmani maupun rohani. Sesungguhnya Engkaulah tabib terbaik dan terhebat. Amin.

Komentar
Posting Komentar