(Renungan) Perjanjian Kekal
Perjanjian Kekal
(Erick Stefanus Jahja)
Kalender Liturgi Kamis, 10 April 2025
Bacaan Pertama : Kej. 17:3-9
Mazmur Tanggapan : Mzm. 105:4-5. 6-7. 8-9
Bacaan Injil : Yoh. 8:51-59
Bacaan pertama hari ini berbicara tentang perjanjian. Perjanjian yang diadakan Allah dengan Abraham, dan juga keturunan Abraham secara turun-temurun selaku umat-Nya. Biasanya perjanjian antara dua pihak tidak sederajat. Ada yang lebih tinggi kedudukannya sebagai pihak yang lebih kuat yang umumnya melindungi/memberikan sesuatu berupa pekerjaan/upah kepada pihak yang lemah. Sebagai balasan, pihak lemah menyatakan kesediaannya untuk mengabdi/melakukan apa yang diberi dari pihak yang kuat.
Apakah yang diperjanjikan? Allah menjanjikan untuk membuat Abraham beranak cucu di usianya yang sudah sangat tua saat itu. Allah juga menjanjikan untuk memberikan tanah yang akan didiami. Abraham dan juga keturunannya, diharuskan berjanji untuk memegang perjanjian ini. Dari pihak Abraham dan keturunannya, Allah meminta mereka berjanji, “supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” (Kej. 17:7) Perjanjian ini berlaku juga untuk keturunan Abraham yang berarti semua bangsa-bangsa yang mengakui Abraham sebagai bapa leluhur perlu memegang perjanjian ini.
Namun, perjanjian ini seringkali dilanggar umat Israel dengan menyembah berhala, dan tentu ada hukuman pula. Namun Allah selalu memberikan kesempatan umat-Nya untuk bertobat. Sehingga perjanjian ini menjadi kekal, karena Allah yang selalu setia memenuhi janji-Nya untuk keselamatan manusia tanpa terpengaruh oleh kesetiaan manusia dalam menjalankan perjanjian ini.
Kadang perjanjian dapat tertulis dan dapat juga hanya ucapan. Namun, tetap sebuah janji dan tergantung dari bagaimana seseorang memandang arti dari hubungan tersebut. Pada saat saya berjanji pada seseorang, “Baiklah saya akan datang besok sore jam 4.” Tanpa terasa tinggal 30 menit dan mulailah saya gelisah karena takut tidak dapat melakukan hal yang sudah dijanjikan. Di lain waktu, seseorang berjanji bertemu namun tidak datang. Ada rasa kecewa, kesal dan kadang marah. Namun Tuhan tidak demikian. Dia selalu tetap pegang janji-Nya karena kasih-Nya begitu besar, melebihi rasa kecewa, kesal dan marah yang mendominasi sikap saya sebagai manusia.
Apakah kita bisa menjaga janji kita untuk tetap setia kepada-Nya?
Doa:
Ya Tuhan Maha Setia, begitu banyak alasan dan keraguan yang sering timbul, menghalau kesetiaan menjaga hubungan perjanjian untuk selalu setia akan firman-Mu. Bangkitkanlah semangat untuk belajar setia dalam ucapan dan tindakanku. Terimakasih ya Bapa, karena Engkau selalu memilih menjaga kesetiaan akan penyelamatan kami, perjanjian yang kekal abadi selamanya. Amin.
(Erick Stefanus Jahja)
"Aku akan menetapkan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu."
(Kej. 17: 7)
Bacaan Pertama : Kej. 17:3-9
Mazmur Tanggapan : Mzm. 105:4-5. 6-7. 8-9
Bacaan Injil : Yoh. 8:51-59
Bacaan pertama hari ini berbicara tentang perjanjian. Perjanjian yang diadakan Allah dengan Abraham, dan juga keturunan Abraham secara turun-temurun selaku umat-Nya. Biasanya perjanjian antara dua pihak tidak sederajat. Ada yang lebih tinggi kedudukannya sebagai pihak yang lebih kuat yang umumnya melindungi/memberikan sesuatu berupa pekerjaan/upah kepada pihak yang lemah. Sebagai balasan, pihak lemah menyatakan kesediaannya untuk mengabdi/melakukan apa yang diberi dari pihak yang kuat.
Apakah yang diperjanjikan? Allah menjanjikan untuk membuat Abraham beranak cucu di usianya yang sudah sangat tua saat itu. Allah juga menjanjikan untuk memberikan tanah yang akan didiami. Abraham dan juga keturunannya, diharuskan berjanji untuk memegang perjanjian ini. Dari pihak Abraham dan keturunannya, Allah meminta mereka berjanji, “supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” (Kej. 17:7) Perjanjian ini berlaku juga untuk keturunan Abraham yang berarti semua bangsa-bangsa yang mengakui Abraham sebagai bapa leluhur perlu memegang perjanjian ini.
Namun, perjanjian ini seringkali dilanggar umat Israel dengan menyembah berhala, dan tentu ada hukuman pula. Namun Allah selalu memberikan kesempatan umat-Nya untuk bertobat. Sehingga perjanjian ini menjadi kekal, karena Allah yang selalu setia memenuhi janji-Nya untuk keselamatan manusia tanpa terpengaruh oleh kesetiaan manusia dalam menjalankan perjanjian ini.
Kadang perjanjian dapat tertulis dan dapat juga hanya ucapan. Namun, tetap sebuah janji dan tergantung dari bagaimana seseorang memandang arti dari hubungan tersebut. Pada saat saya berjanji pada seseorang, “Baiklah saya akan datang besok sore jam 4.” Tanpa terasa tinggal 30 menit dan mulailah saya gelisah karena takut tidak dapat melakukan hal yang sudah dijanjikan. Di lain waktu, seseorang berjanji bertemu namun tidak datang. Ada rasa kecewa, kesal dan kadang marah. Namun Tuhan tidak demikian. Dia selalu tetap pegang janji-Nya karena kasih-Nya begitu besar, melebihi rasa kecewa, kesal dan marah yang mendominasi sikap saya sebagai manusia.
Apakah kita bisa menjaga janji kita untuk tetap setia kepada-Nya?
Doa:
Ya Tuhan Maha Setia, begitu banyak alasan dan keraguan yang sering timbul, menghalau kesetiaan menjaga hubungan perjanjian untuk selalu setia akan firman-Mu. Bangkitkanlah semangat untuk belajar setia dalam ucapan dan tindakanku. Terimakasih ya Bapa, karena Engkau selalu memilih menjaga kesetiaan akan penyelamatan kami, perjanjian yang kekal abadi selamanya. Amin.

Komentar
Posting Komentar