(Renungan) Menjadi Garam dan Terang
Menjadi Garam dan Terang
(Fidensius Gunawan)
Kalender Liturgi Selasa, 10 Juni 2025
Bacaan Pertama : 2Kor. 1:18-22
Mazmur Tanggapan : Mzm. 119:129. 130. 131. 132. 133.135
Bacaan Injil : Mat. 5:13-16
Bacaan Injil hari ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit. Penulis Injil, Matius, mengumpulkan berbagai ajaran Yesus dalam satu peristiwa yang ia beri judul “Khotbah di Bukit”. Salah satunya adalah pengajaran Yesus yang menggunakan perumpamaan garam dan terang. Ajaran ini sudah sangat sering kita dengar dan termasuk yang tidak sulit dipahami, karena baik garam maupun terang merupakan bagian dari hidup kita sehari-hari.
Sangat sering kita pesan lauk dan ternyata hambar. Maka solusi sederhana adalah menambahkan sedikit garam. Rasa hambar akan langsung hilang. Tapi bila garam yang tersedia ternyata, entah karena apa, tidak memberi rasa asin, hampir pasti kita akan kesal. Demikian pula terkait terang. Di rumah kita, pasti ada lampu. Bentuknya bisa macam-macam. Daya terangnya pun disesuaikan dengan kebutuhan. Bila ada satu saja lampu rusak alias mati, hampir seketika kita ganti dengan lampu baru; karena kondisi remang-remang apalagi gelap gulita, memang tidak nyaman.
Yesus terang-terangan meminta kita, “Kamu adalah garam dunia” (Mat. 5:13a), “Kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:14a). Tujuannya agar orang-orang sekitar kita melihat perbuatan kita yang baik dan Bapa di surga dimuliakan. Permintaan sederhana, namun tentu saja sama sekali tidak mudah.
Di kantor, ada dua pimpinan yang sangat bertolak belakang. Mereka sama-sama sudah senior secara umur. Pimpinan yang pertama, kehadirannya selalu menginspirasi. Penuh humor, menghargai bawahan, memberi solusi, sangat peduli dan sering menawarkan bantuan. Sebaliknya, pimpinan kedua kehadirannya sungguh tidak nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Ia mengabaikan masukan dari bawahan, ketus, sering tidak menepati janji manakala tidak terkait dengan kepentingannya. Sikapnya berbeda 180 derajat, bila menghadap atasannya, terlebih pemilik perusahaan. Pimpinan pertama sudah berusaha menjadi garam dan terang bagi orang lain.
Apakah kita sudah menjadi garam dan terang? Tidak mudah tapi bukan tidak mungkin. Yang diperlukan adalah rendah hati, peduli kepada sesama terlebih kepada mereka yang kecil dan tersisih. Juga perlu sering-sering introspeksi diri. Selalu ingat Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG), semua yang kita lakukan demi kemuliaan yang lebih besar bagi Allah.
Doa:
Tuhan Yesus, Engkau meminta aku menjadi garam dan terang. Walau tidak mudah, namun bersama-Mu dan bimbingan Roh Kudus, ijinkan aku menjadi seperti apa yang Engkau kehendaki. Amin.
(Fidensius Gunawan)
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”
(Mat. 5:16)
Bacaan Pertama : 2Kor. 1:18-22
Mazmur Tanggapan : Mzm. 119:129. 130. 131. 132. 133.135
Bacaan Injil : Mat. 5:13-16
Bacaan Injil hari ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit. Penulis Injil, Matius, mengumpulkan berbagai ajaran Yesus dalam satu peristiwa yang ia beri judul “Khotbah di Bukit”. Salah satunya adalah pengajaran Yesus yang menggunakan perumpamaan garam dan terang. Ajaran ini sudah sangat sering kita dengar dan termasuk yang tidak sulit dipahami, karena baik garam maupun terang merupakan bagian dari hidup kita sehari-hari.
Sangat sering kita pesan lauk dan ternyata hambar. Maka solusi sederhana adalah menambahkan sedikit garam. Rasa hambar akan langsung hilang. Tapi bila garam yang tersedia ternyata, entah karena apa, tidak memberi rasa asin, hampir pasti kita akan kesal. Demikian pula terkait terang. Di rumah kita, pasti ada lampu. Bentuknya bisa macam-macam. Daya terangnya pun disesuaikan dengan kebutuhan. Bila ada satu saja lampu rusak alias mati, hampir seketika kita ganti dengan lampu baru; karena kondisi remang-remang apalagi gelap gulita, memang tidak nyaman.
Yesus terang-terangan meminta kita, “Kamu adalah garam dunia” (Mat. 5:13a), “Kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:14a). Tujuannya agar orang-orang sekitar kita melihat perbuatan kita yang baik dan Bapa di surga dimuliakan. Permintaan sederhana, namun tentu saja sama sekali tidak mudah.
Di kantor, ada dua pimpinan yang sangat bertolak belakang. Mereka sama-sama sudah senior secara umur. Pimpinan yang pertama, kehadirannya selalu menginspirasi. Penuh humor, menghargai bawahan, memberi solusi, sangat peduli dan sering menawarkan bantuan. Sebaliknya, pimpinan kedua kehadirannya sungguh tidak nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Ia mengabaikan masukan dari bawahan, ketus, sering tidak menepati janji manakala tidak terkait dengan kepentingannya. Sikapnya berbeda 180 derajat, bila menghadap atasannya, terlebih pemilik perusahaan. Pimpinan pertama sudah berusaha menjadi garam dan terang bagi orang lain.
Apakah kita sudah menjadi garam dan terang? Tidak mudah tapi bukan tidak mungkin. Yang diperlukan adalah rendah hati, peduli kepada sesama terlebih kepada mereka yang kecil dan tersisih. Juga perlu sering-sering introspeksi diri. Selalu ingat Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG), semua yang kita lakukan demi kemuliaan yang lebih besar bagi Allah.
Doa:
Tuhan Yesus, Engkau meminta aku menjadi garam dan terang. Walau tidak mudah, namun bersama-Mu dan bimbingan Roh Kudus, ijinkan aku menjadi seperti apa yang Engkau kehendaki. Amin.

Komentar
Posting Komentar