(Renungan) Jangan Pernah Lelah
Jangan Pernah Lelah
(Juwati Darmawidjaja)
(Juwati Darmawidjaja)
Setiap pohon dikenal dari buahnya. Dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.
(Luk. 6:44)
PW. S. Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama : 1Tim. 1:15-17
Mazmur Tanggapan : Mzm. 113:1-2. 3-4. 5a.6. 7
Bacaan Injil : Luk. 6:43-49
Kebanyakan orang lebih mudah mengenali jenis pohon dari buah yang dihasilkan. Terutama mereka yang tinggal di perkotaan, yang jarang melihat langsung pohon-pohon buah. Mereka hanya mengenal buahnya seperti durian, nangka, dan sebagainya, tanpa tahu seperti apa pohonnya.
Namun, ketika mengunjungi daerah pedesaan dan melihat pohon sedang berbuah, barulah mereka tahu, “Oh, ini pohon durian,” atau, “Ini pohon nangka.”
Buah juga penanda kualitas pohon. Pohon yang mendapatkan cukup nutrisi, bebas dari hama dan penyakit, tentu akan menghasilkan buah segar dan berkualitas. Sebaliknya, pohon yang tidak terawat, kurang nutrisi, atau terserang penyakit, akan menghasilkan buah yang kecil, rusak, atau bahkan tidak layak konsumsi.
Yesus menggunakan perumpamaan tentang pohon dan buah untuk menjelaskan hubungan antara hati dan perbuatan. Hati yang baik melahirkan perbuatan baik; sebaliknya, hati yang jahat menghasilkan tindakan jahat. Bahkan, perkataan seseorang pun mencerminkan apa yang ada di dalam hatinya.
Kita semua adalah buah yang berasal dari pohon yang sama, yaitu Allah sendiri, Sang Sumber Kehidupan. Maka menjadi pertanyaan, apakah hidup kita telah menjadi buah yang manis bagi sesama? Apakah orang sekitar kita, dapat merasakan kedamaian, penghiburan, kekuatan, dan harapan?
Bunda Teresa pernah berkata, “Gunakanlah tanganmu untuk melayani dan hatimu untuk mencintai.” Sederhana, namun dalam. Seakan ia berkata, "Tak perlu hal besar untuk mencerminkan Allah. Lakukan saja kebaikan kecil, dengan cinta yang besar."
Kita mungkin pernah lelah berbuat baik. Mungkin sudah terlalu sering memberi, tapi tak pernah mendapat. Terlalu sering memaafkan, tapi tetap disakiti. Terlalu sering berkorban, tapi dilupakan. Namun ingatlah, buah tidak tumbuh dalam satu malam. Ia butuh musim, matahari, hujan, dan kesetiaan akar untuk terus mencengkeram tanah.
Santo Stefanus, martir pertama, menghidupi iman sampai akhir hayat. Menjelang kematian, ia mampu mengampuni orang-orang yang merajamnya. Ia adalah buah yang ranum. Sebuah buah yang dipetik di surga, dan harum sampai kini.
Doa:
Ya Tuhan,
di dunia yang letih karena kebencian dan keegoisan,
jadikanlah aku pohon kecil yang tetap setia menumbuhkan kebaikan.
Ketika hatiku mulai lelah, siramilah aku dengan kasih-Mu.
Ketika dunia tak membalas cinta,
ingatkan aku bahwa Engkaulah satu-satunya alasan.
Aku ingin menjadi buah yang manis,
yang memberi hidup, menguatkan sesama,
dan memuliakan Engkau.
Amin.
Ya Tuhan,
di dunia yang letih karena kebencian dan keegoisan,
jadikanlah aku pohon kecil yang tetap setia menumbuhkan kebaikan.
Ketika hatiku mulai lelah, siramilah aku dengan kasih-Mu.
Ketika dunia tak membalas cinta,
ingatkan aku bahwa Engkaulah satu-satunya alasan.
Aku ingin menjadi buah yang manis,
yang memberi hidup, menguatkan sesama,
dan memuliakan Engkau.
Amin.

Komentar
Posting Komentar