(Renungan) Roti yang Mengenyangkan Hati

Roti yang Mengenyangkan Hati
(Rita Clara)

“Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi.” 
(Yoh. 6:35)

Kalendar Liturgi Rabu, 22 April 2026
Bacaan Pertama: Kis 8:1b-8 
Mazmur Tanggapan : Mzm 66:1-3a,4-5,6-7a  
Bacaan Injil : Yoh 6:35-40 

Dalam Injil hari ini Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh. 6:35). Yesus menyingkapkan bahwa manusia memiliki kelaparan terdalam yang tidak dapat dipuaskan oleh keberhasilan, harta, atau pengakuan dunia. Hanya Kristus yang sanggup mengenyangkan hati manusia, sebab Ia memberikan diri-Nya sebagai kehidupan bagi dunia. Pernyataan ini mencapai makna paling nyata dalam Ekaristi, ketika Kristus sungguh hadir sebagai Roti Hidup yang memberi kekuatan, pengharapan, dan janji kebangkitan pada akhir zaman (Yoh. 6:39-40).

Suatu pagi di kota Turin, Italia, seorang pemuda berjalan menuju gereja sebelum memulai aktivitasnya. Ia adalah Pier Giorgio Frassati, seorang mahasiswa yang ceria, pecinta gunung, dan sekaligus sahabat bagi banyak orang miskin. Di tengah kesibukan kuliah, persahabatan, dan kegiatan sosialnya, ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah ia tinggalkan: menghadiri Misa dan menerima Tubuh Kristus setiap hari. Bagi Frassati, Ekaristi bukan sekadar kewajiban rohani, melainkan sumber kekuatan yang memberi arah bagi seluruh hidupnya. Bayangkan, di tengah hiruk-pikuk kota yang ramai, ada seorang pemuda yang dengan setia memulai harinya dengan Misa, sebuah kesaksian sederhana bahwa perjumpaan dengan Kristus adalah hal paling penting dalam hidupnya.

Suatu kali seorang temannya bertanya dari mana ia memperoleh tenaga untuk melayani begitu banyak orang miskin. Frassati menjawab singkat, “Tanpa Ekaristi, aku tidak mampu.” Setelah hadir dalam Misa dan menerima komuni, ia sering pergi ke gang-gang kota Turin membawa roti, obat, atau pakaian bagi mereka yang membutuhkan. Baginya, Ekaristi bukan sekadar doa di gereja, melainkan sumber hidup yang menggerakkan kasih.

Hidup Frassati menunjukkan bahwa ketika seseorang sungguh menerima Kristus sebagai Roti Hidup, hidupnya tidak berhenti pada doa pribadi, tetapi berubah menjadi kasih nyata bagi sesama.

Marilah kita datang kepada Kristus, sebab hanya Dia yang dapat mengenyangkan hati kita dan mengubah hidup kita menjadi berkat bagi orang lain.

Doa:
Tuhan Yesus, Engkaulah Roti Hidup yang mengenyangkan hati kami. Bangkitkanlah dalam diri kami kerinduan akan Ekaristi, agar kami dipenuhi kasih-Mu dan mampu membagikan kasih itu kepada sesama. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah