(Renungan) Harta Surgawi vs Duniawi
Harta Surgawi vs Duniawi
(Cicilia Refi)
(Cicilia Refi)
Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
(Mat. 6:21)
Bacaan Pertama: 2Raj. 11:1-4.9-18.20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 132:11-12.13-14.17-18
Bacaan Injil: Mat. 6:19-23
Sejak dahulu, manusia bekerja untuk mencari nafkah. Manusia membutuhkan uang untuk perjalanan hidupnya. Namun dalam Injil hari ini, Yesus melarang kita untuk mengumpulkan harta di bumi. Harta di bumi tidak ada yang abadi. Semua akan rusak, hancur, dan hilang. Sebaliknya Yesus menginginkan kita mengumpulkan harta di surga yang tidak akan rusak, hancur, maupun hilang. Yesus ingin kita memusatkan diri pada Allah. Membiarkan Allah memerintah hati kita. Hati menyiratkan pusat perhatian, kepedulian dan perasaan tentang sesuatu. Kita biasanya akan mengabdikan waktu dan perhatian pada hal-hal yang kita pandang berharga, dan kita akan setia pada hal-hal itu. Hal-hal yang mengganggu kita dari kesetiaan kepada Allah adalah kekayaan dan kekhawatiran.
Mata bagaikan lampu bagi kita, memberikan terang bagi tubuh. Harta kekayaan duniawi dapat membutakan manusia terhadap Allah dan membawanya pada kegelapan yang pekat. Yesus tidak ingin kita hidup dalam gelap, Ia mengarahkan hati kita pada harta abadi di surga, supaya mata kita pun tertuju pada kehendak Allah. Dengan demikian, kita dapat memandang terang dan cahaya Allah dalam perjalanan hidup, sebelum sampai pada Cahaya Abadi di surga.
Saya pernah menyaksikan kerabat dekat mengalami depresi berat sampai kehilangan ingatan, karena hatinya yang terpaut pada harta duniawi. Ia seorang pengusaha besi dengan penghasilan cukup tinggi. Hidupnya hanya terfokus pada bisnis, karena itu yang dianggapnya berharga. Saat pandemi Covid-19 usahanya menurun. Ia mencari cara untuk menghasilkan uang dengan meminjamkan uang kepada teman dekatnya dengan bunga tertentu. Namun, ketika jatuh tempo, temannya tidak dapat mengembalikan uang yang di pinjamnya itu. Kerabat saya syok, dan terus berupaya untuk mendapatkan kembali uangnya. Hatinya yang mengarah pada harta duniawi, membuat ia mengalami depresi. Hidupnya menjadi hancur dan gelap.
Harta duniawi tidak akan menyesatkan kita dan membuat kita depresi, kalau kita sudah melekat pada harta surgawi, yaitu Allah. Harta duniawi akan menjadi sarana kita untuk memuliakan Allah.
Masih melekatkah hati kita pada harta duniawi?
Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih, Engkau telah mengingatkan kami akan harta surgawi. Arahkanlah hati kami sepenuhnya kepada-Mu, tempat di mana harta kami yang sesungguhnya berada, supaya kami tidak tersesat dan hancur. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Tuhan Yesus, terima kasih, Engkau telah mengingatkan kami akan harta surgawi. Arahkanlah hati kami sepenuhnya kepada-Mu, tempat di mana harta kami yang sesungguhnya berada, supaya kami tidak tersesat dan hancur. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Komentar
Posting Komentar