(Renungan) Beban Ringan bagi Bumi

Beban Ringan bagi Bumi
(Yoseph Deddy Kurniawan)

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan. Sebab, kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan."
(Mat. 11:29-30)

Kalender Liturgi Kamis, 16 Juli 2026
Bacaan Pertama: Yes. 26:7-9.12.16-19
Mazmur Tanggapan: Mzm. 102:13-14ab.15.16-18.19-21
Bacaan Injil: Mat. 11:28-30

Langkah kaki saya terasa berat saat melintasi selasar stasiun malam ini, terjebak di antara ratusan pekerja urban yang wajahnya kuyu didera penat. Di dalam tas, bekal dan botol minum kosong yang sengaja saya bawa dari rumah terasa membebani pundak. Terkadang, ego saya berbisik, ”Untuk apa bersusah payah membawa wadah sendiri demi mengurangi plastik, jika jutaan orang lain di kota ini tetap memilih kepraktisan yang merusak bumi?” 

Di tengah kelelahan mental dan fisik itu, sebuah undangan yang begitu lembut bergema dari Injil hari ini. Yesus berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Di tengah kota yang menuntut kita terus berlari hingga lelah, Yesus justru menawarkan perhentian. 

Namun, kelegaan yang Yesus tawarkan bukanlah kepasifan yang abai. Ia melanjutkan, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku,... Sebab, kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan." Kuk adalah alat kayu yang mengikat dua lembu bersama untuk membajak tanah. Belajar dari Yesus berarti berjalan seirama dengan-Nya, termasuk dalam cara Dia mengasihi dunia ini. 

Ketika kita memilih gaya hidup yang ramah lingkungan, dunia mungkin melihatnya sebagai beban tambahan yang merepotkan di tengah sibuknya kota. Namun bersama Kristus, merawat ciptaan berubah menjadi sebuah kelegaan. Kita tidak lagi dikejar oleh ketamakan untuk terus mengkonsumsi, melainkan menemukan kedamaian dalam kesederhanaan.

Selama ini mungkin kita tidak menyadari, bahwa rasa lelah yang kita rasakan saat merawat bumi sering kali karena kita mengandalkan kekuatan sendiri. Hari ini, kita diajak Yesus untuk menukar beban berat keserakahan urban dengan 'kuk' kasih-Nya. 

Mari kita mengambil langkah kecil dengan mengurangi jejak sampah kita hari ini sebagai ibadah yang nyata. Saat kita berjalan seirama dengan Sang Pencipta, menjaga kelestarian alam tidak lagi menjadi beban yang melelahkan, melainkan sebuah jalan pulang menuju kelegaan yang sejati.

Doa:
Ya Tuhan, di tengah penatnya kehidupan kota, ampunilah kami yang sering mengorbankan alam demi kenyamanan instan. Mampukan kami memikul kuk kasih-Mu, agar setiap tindakan kecil kami dalam merawat bumi menjadi bagian dari kelegaan yang Engkau janjikan. Amin.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah