(Renungan) Berbelas Kasih dan Tetap Taat

Berbelas Kasih dan Tetap Taat
(Fidensius Gunawan)

Sekiranya kamu mengerti maksud firman ini: 
Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, 
tentu kamu tidak menghukum orang tidak bersalah.
(Mat. 12:7)

Kalender Liturgi Jumat, 17 Juli 2026
Bacaan Pertama: Yes. 38:1-6.21-22.7-8
Mazmur Tanggapan: Yes. 38:10.11.12abc.16
Bacaan Injil: Mat. 12:1-8

Yesus dan para murid berulang kali dinilai melanggar aturan hari Sabat. Seperti bacaan Injil hari ini, Yesus dan para murid sedang melintas ladang gandum. Karena lapar, mereka memetik bulir gandum dan memakannya. Tindakan ini terkesan salah, karena memetik dan memakan bulir gandum tanpa izin. Ternyata hal ini tidak melanggar hukum. Jadi boleh memetik, asal langsung dimakan. Akan tetapi, tindakan ini di mata beberapa orang Farisi yang mengikuti rombongan Yesus tetap salah, karena hari itu adalah hari Sabat. Memang ada tertulis secara rinci, apa saja yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, termasuk memetik bulir gandum. Namun, Yesus tidak sependapat. Bagi Yesus, belas kasih jauh di atas segala aturan turunan hukum Taurat yang dibuat oleh manusia.

Sebagai prodiakon tentu saya terikat pada beberapa aturan. Salah satunya adalah pembatasan area pelayanan. Prodiakon tidak dapat melayani di luar lingkup paroki. 

Suatu saat, sepupu saya yang tinggal di Jawa Tengah, mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit di Tangerang untuk menjalani operasi dan perawatan lanjutan dalam beberapa minggu. Sepupu ini seorang aktivis Gereja dan ia merindukan dapat menerima Tubuh Kristus selama masa perawatannya. Karena RS ini tidak masuk dalam lingkup paroki saya, maka saya tidak dapat melayani mengantar Sakramen Maha Kudus (SMK) untuknya. 

Setelah koordinasi sana sini, pada hari Minggu pertama, seorang prodiakon dari paroki setempat hadir membawakan SMK. Namun, entah miskomunikasi di mana, pada minggu kedua dan ketiga tidak ada prodiakon yang datang. Menjelang minggu keempat, terdorong belas kasih kepada sepupu ini, saya memberanikan diri meminta izin ke pastor kepala paroki agar diperbolehkan mengantar SMK kepadanya. Puji Tuhan, romo mengizinkan.

Segala peraturan tentu perlu ditaati demi ketertiban dan kebaikan bersama. Namun, sesuai ajaran Yesus, yang utama adalah belas kasih. Maka ketika kita merasa perlu mengedepankan belas kasih yang berpotensi melanggar peraturan, ada baiknya kita minta pendapat otoritas Gereja setempat (uskup) atau setidaknya pastor paroki. 

Doa:
Tuhan, ajar kami untuk tetap setia dan taat pada Gereja-Mu, termasuk pada aturan-aturan yang dibuat demi kebaikan bersama. Namun, tetap beri kami hati yang peka dan keberanian untuk berbelas kasih terhadap sesama, karena itulah kehendak-Mu. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah