(Renungan) Butuh Iman yang Teguhkah untuk Hidup?

Butuh Iman yang Teguhkah untuk Hidup?
(Leo Hans Adrianus)

“Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang pemuka, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.”
(Mat. 9:18)

Kalendar Liturgi Senin, 6 Juli 2026
Bacaan Pertama: Hos. 2:13.14b-15.18-19.
Mazmur Tanggapan: Maz. 145:2-3.4-5.6-7.8-9.
Bacaan Injil:  Mat. 9:18-26.

Perikop Injil hari ini menghadirkan dua kisah iman yang luar biasa. Yairus, seorang pemuka terpandang datang kepada Yesus. Meskipun anaknya telah meninggal, ia tetap percaya bahwa Yesus sanggup menghidupkannya kembali. Secara manusiawi harapan itu mustahil. Lebih dari itu, sebagai kepala rumah ibadat, ia harus menghadapi risiko penilaian dan cibiran dari orang-orang di sekitarnya yang memandang Yesus dengan curiga. 

Demikian juga dengan wanita yang sakit pendarahan. Setelah berbagai usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil, ia tetap menyimpan harapan. Ia percaya bahwa cukup dengan menjamah jubah Yesus, ia akan sembuh. Iman yang sederhana itu membuka jalan bagi karya Allah yang menyembuhkan dirinya. 

Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa mereka memiliki iman yang teguh. Namun, pengalaman hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Ketika adik saya meninggal secara mendadak. Anak dan istrinya sulit menerima kenyataan tersebut. Mereka terus berharap bahwa adik saya tidak meninggal, melainkan hanya pingsan atau tertidur. Dengan berpegang pada kisah kebangkitan anak Yairus, mereka menantikan mukjizat yang sama terjadi.

Akan tetapi, kehendak Tuhan ternyata berbeda. Adik saya tidak dibangkitkan seperti yang mereka harapkan. Ia tetap meninggal dan dimakamkan. Dalam pergumulan itu, keluarga perlahan menemukan penghiburan bukan pada mukjizat yang mereka nantikan saat itu, melainkan pada iman akan kebangkitan yang dijanjikan Kristus pada akhir zaman. Harapan akan kehidupan kekal menjadi kekuatan yang meneguhkan hati mereka.

Pengalaman ini mengingatkan kita, bahwa iman yang teguh bukanlah keyakinan kalau Tuhan selalu akan melakukan apa yang kita inginkan. Iman yang sejati adalah tetap percaya kepada-Nya, baik ketika mukjizat terjadi, maupun ketika jalan-Nya berbeda dari harapan kita. Percaya bahwa Tuhan selalu bekerja demi kebaikan anak-anak-Nya, meskipun sering kali melampaui pemahaman kita.

Ketika kita menghadapi persoalan yang berat, penyakit yang tak kunjung sembuh, atau kehilangan orang yang kita kasihi, mampukah kita tetap percaya bahwa Tuhan hadir dan berkarya dalam hidup kita? 

Doa:
Allah Bapa Yang Maha Kasih, kami bersyukur atas anugerah iman yang telah Engkau tanamkan dalam diri kami. Bantulah kami untuk memperteguh iman kami, sehingga dengan rendah hati mampu menerima mukjizat yang Engkau izinkan terjadi pada diri kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah