(Renungan) Hidup itu Tujuannya Melayani, bukan Dilayani

Hidup itu Tujuannya Melayani, bukan Dilayani
(Sylvia Maria Djatisutikno)

“Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
(Mat. 20:26)

Kalender Liturgi Sabtu, 25 Juli 2026
Pesta S. Yakobus
Bacaan Pertama: 2Kor. 4:7-15
Mazmur Tanggapan: Mzm. 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6
Bacaan Injil: Mat. 20:20-28

Suatu hari ibu dari Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus. Ia meminta agar kedua anaknya kelak mendapat tempat istimewa dalam Kerajaan Allah, yaitu duduk dekat Yesus. Mendengar hal itu, murid-murid menjadi marah, karena mereka pun ingin menjadi yang terbesar.

Yesus mengetahui isi hati mereka. Karena itu, Yesus mengajarkan mereka bahwa menjadi terbesar bukan dari kacamata dunia. Di dunia, orang yang dianggap besar yaitu mereka yang memiliki jabatan tinggi, kekuasaan, dan kekayaan. Semakin tinggi jabatan dan kedudukannya, semakin dihormati. Namun, Yesus berkata, "Tidaklah demikian di antara kamu."

Pengikut Kristus tidak memakai ukuran dunia untuk menentukan kebesaran. Dalam Kerajaan Allah, orang yang besar bukanlah yang paling banyak dilayani, melainkan yang rela melayani. Semakin seseorang merendahkan diri untuk mengasihi dan melayani, semakin besar ia di hadapan Allah. Karena itu Yesus melanjutkan. “Siapa saja ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Mat. 20:26, Mrk 10:43). 

Yesus sendiri menjadi teladan bagi kita. Ia adalah Putra Allah, Raja atas segala raja. Namun, Ia mau lahir di kandang yang sederhana, bergaul dengan orang-orang kecil, menyentuh orang kusta, dan memberi makan yang lapar. Yesus tidak hanya meminta murid- murid untuk melayani, tetapi Yesus melakukannya.

Beberapa waktu lalu, saya sedang berjalan kaki. Saya memperhatikan ada seorang ibu tua sedang mengangkat galon air minum, dan terlihat tidak kuat mengangkatnya. Awalnya saya diam saja, namun tiba-tiba terlintas perkataan: “Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Lalu saya segera menghampiri ibu itu, dan membantunya mengangkat air galon minum tersebut. Saat itu saya menyadari bahwa melayani tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Melayani dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membantu tanpa diminta, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menghibur yang sedih, mendoakan orang lain, atau melakukan pekerjaan yang sering kali tidak terlihat.

Refleksi kita hari ini, apakah saya lebih ingin untuk dilayani, ataukah saya sudah mengambil langkah untuk melayani orang lain? 

Doa:
Bapa di surga, sering kali kami lebih memikirkan diri sendiri daripada orang lain, ingin diperhatikan, dan ingin dilayani. Saat ini Engkau mengajarkan kami untuk lebih memikirkan orang lain, membantu orang lain, menjadi perpanjangan mulut-Mu, telinga-Mu, dan tangan-Mu. Sebagaimana Yesus lakukan dulu, sering memperhatikan orang kecil dan lemah. Bantu kami Bapa, untuk tidak menjadi egois, tetapi memberikan waktu kami untuk melayani seperti Yesus. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah