(Renungan) Hukum Kasih Menggenapi Hukum Taurat
Hukum Kasih Menggenapi Hukum Taurat
(C. Hudianto)
“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”
(Mat. 10:34)
Kalender Liturgi Senin, 13 Juli 2026
Bacaan Pertama: Yes. 1:11-17
Mazmur Tanggapan: 50:9.16bc-17.21.23
Bacaan Injil: Mat.10:34 -11:1
Mazmur Tanggapan: 50:9.16bc-17.21.23
Bacaan Injil: Mat.10:34 -11:1
Ayat di atas terkesan sabda yang 'kontrovesial', mengingat selama ini Yesus sebagai pembawa damai. Yesus bergelar Raja Damai (Yes. 9:5), untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Juga untuk membawa damai kepada sesama (Mat. 5:9). Kalimat 'membawa pedang' pada ayat di atas berkesan kejam. Pedang adalah simbol pemisahan jika kita menghidupi nilai- nilai Kerajaan Allah. 'Pedang' itu akan bekerja, ketika nilai-nilai Kerajaan Allah yang kita hidupi bertabrakan dengan nilai-nilai dunia. Konflik bisa terjadi dengan orang-orang terdekat-keluarga, teman, atau rekan kerja yang belum bisa menerima perubahan hidup kita.
Yesus tidak bermaksud merusak hubungan kita dengan sesama. Dia mengingatkan bahwa kesetiaan kepada-Nya adalah prioritas. Yesus berfirman, “Siapa saja yang mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mat.10:37). Firman ini merupakan penggenapan, bukan berlawanan dengan salah satu perintah dalam hukum Taurat: "Hormatilah ayah dan ibumu, supaya kamu hidup lama di tanah yang diberikan Tuan, Allahmu, kepadamu." (Kel. 20:12).
Namun, meskipun kebenaran Kristus memisahkan kita dari cara hidup dunia, kita harus menghadapinya dengan kesabaran, kasih dan doa.
Makna sabda Tuhan Yesus di atas, mengingatkan penulis pernah menjadi murid-Nya yang tidak layak untuk mengikuti Yesus. Penulis pernah menjadi kepala divisi perencanaan di instansi pemerintah; dengan tugas mengkoordinasikan secara nasional target fisik dan kebutuhan anggaran, untuk salah satu sub sektor yang kemudian dituangkan ke dalam APBN. Tugas ini harus selesai sebelum akhir tahun anggaran. Konsekuensinya, setiap Natal 'tidak ada waktu' ke gereja. Ini berarti tidak memberikan prioritas pada kehadiran Yesus melalui Komuni pada Perayaan Ekaristi. Hal ini sama seperti disandera atau lebih mengutamakan Beelzebul yang bermetamorfosa berupa jabatan. Kondisi ini berlangsung selama lima tahun dan bisa kembali normal setelah pindah ke tugas pokok lainnya.
Dengan menyadari kelemahan dan kesalahan yang lalu, mari kita memperbaiki langkah ke depan dengan prioritas memperoleh harta sorgawi, bukan dengan mengompromikan iman kita agar diterima oleh dunia.
Doa:
Bapa Yang Maha Rahim, kami percaya akan Kuasa-Mu yang tidak terbatas atas diri kami. Ajarkanlah kami untuk terbuka kepada Engkau, untuk menjadi yang utama bagi hidup kekal dan tidak terjadi kelekatan dengan segala sesuatu dari dunia yang binasa. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Bapa Yang Maha Rahim, kami percaya akan Kuasa-Mu yang tidak terbatas atas diri kami. Ajarkanlah kami untuk terbuka kepada Engkau, untuk menjadi yang utama bagi hidup kekal dan tidak terjadi kelekatan dengan segala sesuatu dari dunia yang binasa. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Komentar
Posting Komentar