(Renungan) Iman yang Simpel tetapi Kokoh

Iman yang Simpel tetapi Kokoh
(Dewi Mulyati S.)

“... Percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia.” 
(Yoh. 11:26-27)

Kalender Liturgi Rabu, 29 Juli 2026
Bacaan Pertama: 1Yoh. 4: 7-16
Mazmur Tanggapan: Mzm. 34:2-3.4-5.6-7.8-9.10-11
Bacaan Injil: Yoh. 11:19-27

Marta berkepribadian terbuka dan apa adanya. Ketika Yesus datang melayat, Lazarus saudaranya sudah meninggal selama empat hari. Marta tidak menyembunyikan kepedihannya dan sedikit kecewa; karena seandainya Yesus datang lebih awal, saudaranya pasti tidak mati. Dengan berani Marta bahkan menyatakan harapannya akan mukjizat kepada Yesus dengan dalih Allah pasti memberikan apa pun yang diminta Yesus. Marta berani melempar harapan seabsurd itu karena percaya kepada Yesus. Situasi Marta mengingatkan kita bahwa Yesus adalah sahabat yang bisa menerima kejujuran, biarpun diungkapkan dengan emosional. Kita belajar untuk tidak menyembunyikan kesedihan, kekecewaan, atau kemarahan dari Yesus. 

Ketika Marta ditantang Yesus, apakah ia mengimani-Nya sebagai sang penakluk maut dan sumber kehidupan? Marta dengan berani keluar dari kesedihannya dan tegas menyatakan imannya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang datang ke dunia. Meskipun sedang mengalami fase emosional yang berat, Marta tetap menunjukkan kekuatan iman dengan cara simpel, tetapi kokoh, yang didasari kejujuran dan harapan penuh akan keselamatan dari Yesus. Ketika hidup kita terasa berat, kita selalu bisa mengungkapkan harapan atas kuasa-Nya.

Ketika saya dicopot dari jabatan dengan lingkup global dan kembali mengurusi lingkup lokal, saya merasa telah gagal. Semangat kerja dan ego saya jatuh. Saya mencoba berdoa untuk mendamaikan hati, tetapi pikiran saya riuh berdialog memikirkan langkah selanjutnya. Sampai dalam suatu Misa, saya mendengarkan homili yang intinya tidak ada yang luput dari perhatian Allah. Dia sudah mempunyai grand plan bagi kita masing-masing. Hati saya pun menjadi ringan. Saya memang belum tahu solusi saat itu, tetapi saya yakin Tuhan yang memegang kontrol untuk memastikan saya baik-baik saja.

Marilah kita membangun iman yang simpel namun kokoh seperti Marta. Iman simpel, yang tidak perlu banyak rasionalisasi terutama di zaman modern ini, yang banyak perdebatan soal iman. Iman yang kokoh berdasar harapan keselamatan yang telah dipersiapkan oleh Yesus khusus untuk kita.

Doa:
Ya Tuhan Yesus, ampunilah hambamu yang pada saat-saat sulit sering berucap seperti Marta; karena aku telah meragukan ‘waktu-Mu’ atau mempertanyakan ‘mengapa Engkau terasa lambat’. Aku bersyukur karena Engkau telah menerima kesedihanku, kebingunganku dan memberikan terang di saat yang paling tepat bagiku. Bimbinglah aku untuk selalu mengandalkan-Mu dalam situasi apa pun, karena hanya Engkau Putra Allah yang telah diutus-Nya untuk keselamatan kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah