(Renungan) Jangan Melihat Status, Lihat Hatinya
Jangan Melihat Status, Lihat Hatinya
(Klara Yanti Suryat)
(Klara Yanti Suryat)
Mereka pun kecewa dan menolak Dia.
(Mat. 13:57a)
Bacaan Pertama: Yer. 26:1-9.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 69:5.8-10.14
Bacaan Injil: Mat. 13:54-58
Dalam Injil hari ini (Mat. 13:54-58), Yesus kembali ke Nazaret, kampung halaman-Nya. Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya. Mereka heran dari mana Yesus memperoleh hikmat dan kuasa untuk melakukan mukjizat. Namun kekaguman itu berubah menjadi keraguan. Mereka berkata, “Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” Karena hanya melihat latar belakang dan keluarga-Nya, mereka gagal mengenali bahwa Allah sedang berkarya melalui Yesus. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan mengalami karya Tuhan yang lebih besar. Injil hari ini mengingatkan kita bahwa prasangka sering kali menutup mata hati sehingga kita lebih sibuk menilai siapa orangnya daripada mendengarkan pesan dan melihat kebaikannya.
Saya teringat almarhum nenek. Beliau tidak bisa membaca dan menulis. Wajahnya tampak tegas, tutur katanya keras, sehingga tidak sedikit orang yang menggunjingkannya atau salah menilainya. Banyak yang hanya melihat penampilannya, tetapi tidak sungguh mengenal isi hatinya.
Suatu hari, seorang ibu penjual kue mengalami kecelakaan. Kue-kue yang hendak dijual berserakan di jalan, sementara tangannya patah sehingga tidak dapat berjualan lagi. Orang-orang hanya berdiri melihat tanpa berbuat apa-apa. Nenek tidak banyak bicara. Beliau langsung menyuruh saya mengantarkan beras ke rumah ibu tersebut. Tidak berhenti di situ, seluruh uang hasil tagihan penjualan kue hari itu juga diberikan kepada ibu itu agar keluarganya tetap bisa makan selama ia belum dapat bekerja kembali.
Dari peristiwa itu saya mengerti bahwa kasih tidak selalu hadir melalui orang yang terpandang. Allah sering kali bekerja melalui orang-orang sederhana yang hatinya penuh belas kasih. Mereka mungkin tidak pandai berbicara, tidak memiliki pendidikan tinggi, bahkan sering disalahpahami. Namun, hati mereka dipenuhi belas kasih, melalui merekalah kasih Tuhan menjadi nyata.
Marilah kita belajar menghargai setiap orang tanpa memandang status sosial, pendidikan, pekerjaan, maupun penampilan lahiriahnya. Janganlah cepat menghakimi, karena bisa jadi orang yang paling sederhana justru sedang dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Bukalah hati, karena Allah dapat hadir dan berkarya melalui siapa saja yang berkenan kepada-Nya.
Doa:
Tuhan Yesus, ajarlah kami melihat sesama dengan mata kasih, bukan dengan ukuran dunia. Jauhkan kami dari sikap mudah menghakimi dan meremehkan orang lain. Bukalah hati kami agar mampu mengenali karya-Mu melalui setiap pribadi yang Engkau hadirkan dalam hidup kami. Jadikan kami pula alat kasih-Mu, sehingga melalui tindakan sederhana kami, orang lain dapat merasakan kehadiran-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar