(Renungan) Memberi Tanpa Pamrih
Memberi Tanpa Pamrih
(Johanna Kemal)
(Johanna Kemal)
Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang yang sakit kulit; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma.
(Mat. 10:8)
Kalender Liturgi Kamis, 9 Juli 2026
Bacaan Pertama: Hos. 11:1-4.8c-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 80:2ac.3b.15-16
Bacaan Injil: Mat. 10:7-15
Bacaan Pertama: Hos. 11:1-4.8c-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 80:2ac.3b.15-16
Bacaan Injil: Mat. 10:7-15
Tuhan Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan mengutus mereka. Sebelumnya Ia memberi mereka bekal, berupa kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang dari segala penyakit dan kelemahan. Bekal ini bukan sekadar kuasa, melainkan jaminan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Tuhan Yesus mengutus mereka kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel, yaitu umat yang tersesat karena kelalaian atau kesalahan para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka yang seharusnya menggembalakan umat justru gagal, sehingga Tuhan Yesus sendiri harus turun tangan dengan mengutus murid-murid-Nya. Tugas mereka jelas: memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Allah menghendaki semua umat beroleh keselamatan melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.
Pesan Yesus tegas: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang yang sakit kulit; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Perutusan ini menuntut sikap tanpa pamrih, sebab mereka sudah menerima anugerah terlebih dahulu.
Saya teringat kisah panggilan seorang pastur dalam persiapan buku 25 tahun imamatnya. Dalam suatu wawancara, ia mengatakan bahwa panggilan yang paling ia rasakan adalah melayani umat yang berduka, seperti memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit atau Perminyakan, Misa Requiem, maupun Ibadat Pemakaman. Di masa Covid, ketika banyak orang yang enggan melayani karena takut tertular, ia tetap hadir. Bahkan pernah melayani hingga pukul 02.00 dini hari. Anehnya, pastur ini senantiasa dilindungi Tuhan. Dia tidak pernah tertular meski sering mendampingi umat yang sakit atau meninggal karena Covid. Pelayanan itu ia lakukan tanpa pamrih, dan Tuhan memeliharanya.
Kisah ini menjadi cermin bagi kita: maukah kita melaksanakan panggilan baptisan untuk mencari dan membawa kembali mereka yang hilang dengan ikhlas? Dalam keluarga, komunitas, maupun Gereja; kita diajak memberi dengan cuma-cuma, tanpa pamrih, sebab kita pun telah menerima kasih Allah secara cuma-cuma.
Dengan demikian, kita sungguh menjadi murid Kristus yang hadir membawa terang bagi dunia, membawa harapan baru bagi mereka yang tersesat ataupun terluka.
Doa:
Ya Tuhan, kami semua telah Kau panggil dalam perutusan setelah kami dibaptis. Biarlah kami mau melakukannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Melayani tanpa maksud terselubung. Melayani dengan ikhlas untuk kemuliaan-Mu. Amin.
Ya Tuhan, kami semua telah Kau panggil dalam perutusan setelah kami dibaptis. Biarlah kami mau melakukannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Melayani tanpa maksud terselubung. Melayani dengan ikhlas untuk kemuliaan-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar