(Renungan) Mencari dalam Kegelapan, Menemukan dalam Kerinduan

Mencari dalam Kegelapan, Menemukan dalam Kerinduan
(Isye Iriani)

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena  ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.
(Yoh. 20:1)


Kalender Liturgi Rabu, 22 Juli 2026
Pesta S. Maria Magdalena
Bacaan Pertama: Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 63: 2.3-4.5-6.8-9
Bacaan Injil: Yoh. 20:1.11-18

Baik mempelai dalam Kidung Agung 3:1, maupun Maria Magdalena dalam Injil Yoh. 20:1, sama-sama memulai pencarian mereka dalam kondisi 'malam' atau 'hari masih gelap'. Kegelapan melambangkan kesulitan, kedukaan, saat Tuhan terasa jauh. 

Namun, Maria tidak berdiam diri, cinta mendorongnya tetap mencari Yesus bahkan di tempat yang paling gelap dan tidak meyakinkan-kubur. Kedukaan membutakan mata Maria Magdalena, membuat dia tidak mengenali Yesus. Sampai saat Yesus memanggil namanya, "Maria!" Seketika matanya terbuka.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman serupa sering muncul dalam ruang konseling. Seorang anak mencari pengakuan orang tuanya, seorang istri ingin didengarkan, seorang remaja terjebak dalam kecanduan. Di balik persoalan yang tampak, sering tersembunyi kerinduan mendasar: dicintai, diterima, didengar, dihargai, dan merasa aman. 

Penyembuhan terjadi ketika seseorang dapat merasakan, "Akhirnya ada yang melihat dan mendengar saya." Mungkin demikian cara Tuhan bekerja. Dalam badai kehidupan, saya sering bertanya, "Tuhan, di mana Engkau?" 

Ketika mencari pertolongan Tuhan, fokus kita tertuju pada masalah. Ketika mencari Tuhan sendiri, fokus kita beralih kepada relasi. Kita tidak selalu mendapatkan jawaban atas semua masalah hidup, tetapi disadarkan bahwa kita tidak menjalaninya sendirian.

Kisah Maria Magdalena mengingatkan, bahwa Tuhan tidak pernah jauh. Ia hadir dan dekat, bahkan ketika saya belum mengenali-Nya. Ia tetap setia menemani, hingga saatnya (memanggil) nama saya. Mungkin, puncak pencarian rohani bukanlah ketika berhasil menemukan Tuhan, melainkan ketika menyadari bahwa Tuhan telah mengenal, mencari, dan menyertai kita sejak awal. 

Mungkin kasih Maria Magdalena menghadirkan sebuah 'jeda' dalam perjalanan Yesus menuju Bapa (bdk. Yoh. 20:17). Hati yang sungguh merindukan dan mengasihi Tuhan ternyata bukan hanya mencari Dia, melainkan menjadi hati yang terlebih dahulu dipandang, dihampiri, dan dipanggil oleh-Nya.

Karenanya, mungkin, kisah Santa Maria Magdalena yang kita rayakan hari ini bukanlah tentang seorang wanita yang berhasil menemukan Yesus. Melainkan tentang seorang wanita yang menangis dalam kegelapan, lalu menemukan Sang Guru tidak pernah kehilangan dirinya. 

Doa:
Tuhan saat jalan di depanku tampak gelap, tambahkanlah imanku, beri aku hati yang tetap percaya bahwa Engkau sungguh Emanuel-Allah yang selalu besertaku. Mampukan aku setia untuk terus mencari-Mu, bertekun dalam doa, dan tetap berharap di tengah badai kehidupan.
Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah