(Renungan) Siapakah Kita di Hadapan Tuhan?

Siapakah Kita di Hadapan Tuhan?
(Ignasius Hardjo S.L.)

“Mungkinkah kapak memegahkan diri terhadap penebang atau gergaji membesarkan diri terhadap penggergaji? Seolah-olah gada menggerakkan penggada, dan seolah-olah tongkat mengangkat pembawanya yang bukan kayu!”
(Yes.10:15)

Kalender Liturgi Rabu, 15 Juli 2025
Bacaan Pertama: Yes.10: 5-7.13-16
Mamur Tanggapan: Mzm. 94:5-6.7-8.9-10.14-15
Bacaan Injil: Mat. 11:25-27

Ayat ini merupakan perumpamaan yang digunakan Nabi Yesaya untuk menegur bangsa Asyur. Pada masa itu Asyur dipakai Allah sebagai cambuk untuk mendisiplinkan bangsa Israel yang tegar tengkuk. Namun, bukannya sadar bahwa mereka hanyalah alat di tangan Tuhan, Raja Asyur malah menjadi sombong. Mereka merasa hebat, kuat dan mampu menaklukkan bangsa-bangsa karena kehebatan militer mereka. Dengan perumpamaan ini, Tuhan mau mengingatkan hakikat diri Asyur sebenarnya hanyalah alat, bukan pencipta.

Ayat ini menjadi cermin bagi saya dalam kehidupan sehari-hari agar tidak berlaku seperti perumpamaan kapak atau gergaji, atau gada yang sombong itu. Di usia pensiun, saya bisa mendapatkan pekerjaan baru. Bahkan saya bekerja di perusahaan yang lebih besar, sebut saja perusahaan A. Proses tawaran bekerja di tempat baru ini terjadi ketika saya ikut Perayaan Ekaristi. Orang yang saya kenal, yang merupakan salah satu petinggi perusahaan A duduk di bangku depan saya. Kami saling memberi salam. Dalam hati terasa ada dorongan untuk berbicara dengan dia. Selesai Ekaristi kami bertemu dan berbincang-bincang. Dia mengajak saya untuk bergabung ke perusahaan A setelah tahu saya sudah tidak bekerja di tempat lama. Saya banyak dilibatkan dalam pengembangan properti dan konstruksi. Saya percaya yang saya alami ini bukanlah kebetulan atau karena pengalaman kerja saya. Semua ini karena kemurahan Tuhan. Saya hanyalah alat-Nya untuk dipakai di mana Tuhan mau. Saya harus bekerja sungguh-sungguh karena suatu kehormatan bagi saya boleh menjadi alat-Nya.

Dari pengalaman hidup ini, saya semakin diteguhkan untuk menyadari kesehatan, kesempatan, dan nafas hidup adalah berasal dari Tuhan. Kalau boleh saya andaikan, saya adalah kuas dan Tuhanlah sang pelukisnya. 

Janganlah menjadi sombong ketika bisnis kita sukses, ketika pelayanan kita berkembang, ketika anak-anak kita berhasil. Semua itu karena kemurahan Tuhan. Tuhan mau memakai hidup kita yang penuh keterbatasan untuk menyatakan pekerjaan-Nya yang luar biasa di dunia ini.Tugas kita adalah menjadi alat yang selalu siap sedia saat Tuhan ingin memakainya.

Doa:
Allah Bapa di surga, ampunilah kami jika sering kali kami lupa diri atas keberhasilan yang kami raih. Sadarkanlah kami kembali bahwa kami hanyalah alat bagi-Mu. Pakailah hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah