(Renungan) Sumber Air Hidup
Sumber Air Hidup
(Fellicia Fenny)
(Fellicia Fenny)
“Sebab, umat-Ku melakukan kejahatan ganda: mereka meninggalkan Aku, sumber air hidup, dan menggali tempat penampung air bagi mereka sendiri, penampung yang bocor, yang tidak dapat menahan air.”
(Yer. 2:13)
Bacaan Pertama: Yer. 2:1-3.7-8.12-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 36: 6-7ab.8-9.10-11
Bacaan Injil: Mat. 13:10-17
Tuhan tampaknya sudah gerah dengan kelakuan penduduk Yerusalem, dan mengutus Nabi Yeremia untuk menyampaikan 'kegundahan' hati-Nya. Dalam kekecewaan-Nya, Tuhan mengenangkan kisah cinta awal di masa muda, antara Diri-Nya dengan sang pengantin (bangsa Israel), relasi dalam kekudusan, kesetiaan, dan perlindungan penuh.
Kemudian Tuhan mencatat dua kejahatan penduduk Yerusalem yang disebut murtad dan menjadi kekejian; yaitu meninggalkan Tuhan, Sang Sumber Air Hidup, serta menggali kolam yang bocor bagi mereka sendiri. Dalam Yer. 2:8 dikatakan, ”Para imam tidak lagi bertanya, di manakah TUHAN? Orang-orang melaksanakan hukum agama namun tidak mengenal Aku lagi.” Mereka melayani, namun mengikuti apa yang tidak berguna, yaitu kehendak dan keinginan menurut pemikiran sendiri.
Menurut Anthony de Mello, SJ., Sumber Air Hidup adalah kesadaran diri (awareness) akan kehadiran Allah, yang dialami secara langsung dalam keheningan batin, terlepas dari dogma atau batasan pikiran. Dalam bukunya "Sumber Air Hidup", de Mello memaparkan bahwa untuk menemukan ‘sumber air hidup’, manusia harus bangun dari 'tidur rohani' dan menjalani hidup dengan kesadaran murni. Membuat diri 'terjaga' agar tidak hidup secara mekanis dan rutinitas, tetapi dengan penuh kesadaran menimba dari sumber air hidup yaitu Tuhan sendiri.
Menemukan Tuhan bukan di luar diri, melainkan dalam keheningan batin dengan masuk ke dalam diri, menyatukannya dengan cahaya Ilahi. Membiarkan Roh Allah mengambil alih, dengan mengosongkan diri dari keinginan pikiran dan nafsu daging. Membebaskan diri dari keterikatan ego dan 'kepemilikan' adalah awal dari cinta kasih yang tulus.
Tanpa disadari, sering kali kita menjadikan karir, jabatan, keluarga, harta kekayaan, atau apa pun di dunia ini sebagai sumber air hidup. Mengklaimnya sebagai hak milik dan melekat padanya; sama saja dengan meninggalkan Tuhan, Sang Sumber Air Hidup sejati, demi kesia-siaan yang menuju kebinasaan.
Mengenangkan dan mempertahankan cinta kasih mula-mula dalam kesadaran murni, akan memelihara persekutuan intim dalam Firman, doa, dan keheningan batin.
Marilah kita senantiasa menghayati anugerah pengorbanan Kristus di salib melalui pelayanan cinta bakti, ibadah, dan Sakramen Kudus-Nya.
Doa :
Bapa, bangunkan kami dari tidur lelap, agar kami dengan penuh kesadaran mampu menemukan sumber air hidup sejati, dan menimba kebijaksanaan di dalam-Mu. Amin.
Bapa, bangunkan kami dari tidur lelap, agar kami dengan penuh kesadaran mampu menemukan sumber air hidup sejati, dan menimba kebijaksanaan di dalam-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar