(Renungan) Takut: Bagaimana Seandainya - Iman: Walaupun Demikian

Takut: Bagaimana Seandainya
Iman: Walaupun Demikian

(Hendri Candra)

"Karena itu, janganlah takut! Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit."
 (Mat. 10:31)

Kalender Liturgi Sabtu, 11 Juli 2026
PW. S. Benediktus, Abas
Bacaan Pertama: Yes. 6:1-8
Mazmur Tanggapan: Mzm. 93:1ab.1c-2.5
Bacaan Injil: Mat.10:24-33

Ketika masih kecil, di kampung saya, keahlian pertama yang paling penting sekaligus survival skill adalah berenang. Kampung saya dikelilingi oleh sungai dan parit, sehingga alat transportasi paling umum adalah melalui sungai. Ketika belum bisa berenang, saya pernah dua kali tenggelam di sungai dan berhasil diselamatkan oleh orang tua saya. Dari rasa takut tenggelam itu, saya bertekad untuk segera belajar berenang dan mahir dalam waktu singkat.

Perasaan takut juga dialami oleh kedua belas murid yang baru saja dipilih oleh Yesus. Dalam Mat. 10:16-23, Yesus memperingatkan bahwa mereka akan diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala. Namun, pada saat yang sama Yesus berkata kepada mereka bahwa apabila mereka ditangkap, mereka tidak perlu khawatir, karena Roh Bapa akan membantu mereka berkata-kata dan menjawab segala pertanyaan.

Hari ini, kembali Yesus menguatkan mereka supaya jangan takut; karena penganiayaan dan penolakan yang akan mereka alami tidaklah lebih berat daripada apa yang akan dialami-Nya. Ia juga memberikan jaminan bahwa Bapa akan menjaga dan melindungi mereka dengan  perumpamaan, bahwa seekor burung pipit pun tidak akan jatuh di luar kehendak Bapa. Bahkan rambut kepala mereka pun terhitung semuanya.

Inilah iman yang sejati, di mana kita sungguh percaya bahwa Tuhan selalu menyertai dan melindungi kita, anak-anak-Nya. Ketakutan dan kekurangpercayaan membawa kita selalu mengandalkan kemanusiaan dan kemampuan kita sendiri, sehingga seringkali bertanya dalam hati: bagaimana seandainya (what if). 

Namun, kita diajak dan diingatkan untuk selalu mengandalkan iman yang akan membawa kita berharap: walaupun demikian (even if), saya tetap percaya. Tuhan tidak pernah meninggalkan dan akan selalu membimbing saya. Bekerjalah sesuai kemampuan yang Tuhan berikan, dan dengan iman serta tekun berdoa, kita serahkan hasilnya ke dalam tangan-Nya.

Hari ini, kita memperingati St. Benediktus, yang mengajarkan teladan keseimbangan hidup: ora et labora. Gereja baru di paroki saya yang mengambil nama St. Benediktus sebagai pelindungnya, juga dibangun melalui iman, doa yang tidak pernah putus, dan kerja keras dari semua pihak.

Doa:
Ya Tuhan, kami bersyukur atas sabda-Mu yang hidup dan menguatkan iman kami, bahwa Engkau selalu menyertai kami. Kami berjanji untuk selalu bersyukur atas penyertaaan-Mu dan senantiasa mengandalkan-Mu dalam setiap langkah hidup kami. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah