(Renungan) Tidak Sedarah, tapi Searah

Tidak Sedarah, tapi Searah
(Maria Theresia Widyastuti)

“Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku.”
(Mat. 12:50)

Kalender Liturgi Selasa, 21 Juli 2026
Bacaan Pertama: Mi. 7:14-15.18-20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 85:2-4.5-6.7-8
Bacaan Injil: Mat. 12:46-50

Memahami apa yang dikehendaki Yesus dalam Matius 12:50 tidaklah mudah. Dalam peristiwa itu, seakan Yesus sedang menjauh dari keluarga-Nya. Padahal yang dilakukan Yesus bukanlah mempersempit arti keluarga, melainkan memperluasnya. Yesus mengajak kita melihat bahwa Kerajaan Allah melahirkan keluarga yang lebih besar daripada sekadar hubungan biologis.

Saya tidak mengenal Audrey sebelumnya. Masih teringat perjumpaan pertama kami di sebuah biara di Roma. Saat itu kami hanyalah dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama. Tidak pernah membayangkan bahwa perjumpaan singkat tersebut akan menjadi awal  sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yang kemudian menghadirkan berbagai karya, pelayanan, pertemuan dengan banyak orang bahkan menjangkau lebih dari 50 negara diaspora Indonesia berada, dan kesempatan untuk menjadi saluran kasih Tuhan bagi sesama.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa tidak semua hubungan penting dalam hidup, lahir dari hubungan darah. Ada orang-orang yang Tuhan hadirkan pada waktu yang tepat. Mereka datang bukan karena ikatan keluarga, melainkan karena kesamaan panggilan. Mereka menjadi teman seperjalanan. Mereka menjadi sahabat dalam karya. Mereka menjadi saudara dalam pelayanan.

Dalam perjalanan hidup, saya menemukan begitu banyak 'Audrey-Audrey' yang lain. Orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan saya, tetapi bersama-sama berusaha mendengarkan kehendak Tuhan. Kami mungkin berbeda usia. Berbeda latar belakang. Berbeda profesi. Namun kami dipersatukan oleh kerinduan yang sama untuk melayani, bertumbuh, dan menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.

Mungkin itulah cara Tuhan bekerja. Ia tidak selalu menambah keluarga kita melalui kelahiran. Kadang Ia mempertemukan orang-orang yang tidak sedarah, tetapi berjalan searah dalam kehendak-Nya. Kadang Ia mempertemukan kita dengan orang-orang yang membantu kita menjalani panggilan yang telah Ia siapkan.

Hari ini Tuhan sedang mengingatkan kita bahwa keluarga-Nya jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan. Mungkin Tuhan sedang menghadirkan saudara dan keluarga rohani dalam hidup kita saat ini. Maka marilah kita bertanya dalam hati: siapakah saudara dan keluarga rohani yang Tuhan kirimkan untuk membantu kita berjalan dalam kehendak-Nya?

Doa:
Allah Bapaku Sang Empunya segalanya, terima kasih atas saudara dan keluarga rohani yang datang dalam kehidupan kami. Apa pun yang terjadi semua menunjukkan betapa kasih-Mu yang luar biasa telah mengirimkan orang-orang yang penuh kasih untuk memahami hidup kami. Maka kiranya Tuhan, berikan kami hikmat agar keluarga rohani yang Engkau berikan sungguh membuat kami semakin melayani-Mu dan semakin membesarkan kasih-Mu di dunia ini. Dampingi dan berkati kami selalu. Terima kasih Bapa. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah