(Renungan) Apakah yang Akan Kami Peroleh?

Apakah yang Akan Kami Peroleh?
(Taruna Lala)

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau. Jadi, apakah yang akan kami peroleh?
(Mat.19:27)

Kalender Liturgi Selasa, 18 Agustus 2026
Bacaan Pertama: Yeh. 28:1-10
Mazmur Tanggapan: Ul. 32:26-27ab.27cd
-28.30.35cd-36ab
Bacaan Injil: Mat.19:23-30

Suatu hari anak saya memerlukan suatu benda untuk tugas sekolahnya, maka saya menggunakan kendaraan pergi ke suatu toko untuk membeli benda itu. Setelah membeli benda itu, saya masuk ke kendaraan dan pergi kembali ke rumah. Saat akan meninggalkan tempat parkir, seorang tukang parkir datang menghampiri. Saya merasa aneh, karena sebelumnya saat akan memarkirkan kendaraan dan setelah parkir, saya tidak melihat ada seorang tukang parkir. Wajahnya menunjukkan mengharap sesuatu.

Sesudah Yesus berkata bahwa sukar seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga dan lebih mudah seekor unta melewati ‘lubang jarum'; Petrus bertanya kepada Yesus, “Apakah yang akan kami peroleh?” Pertanyaan Petrus mewakili dirinya dan murid-murid yang lain serta orang-orang pada masa kini. Pertanyaan lumrah di mata dunia, yang segala sesuatu diukur dan dihitung sehingga bersifat transaksional.

Namun jawaban Yesus luar biasa. Pada waktu penciptaan kembali, saat Anak Manusia yaitu Yesus sendiri bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, maka para murid yang telah mengikut-Nya dan meninggalkan segalanya, akan duduk di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel, menerima kembali seratus kali lipat apa yang ditinggalkannya dan memperoleh hidup kekal.

Mengikut Yesus berarti berani melepaskan segalanya dan dengan sepenuh hati dan tulus meneladani Kristus. Menyangkal diri dengan meninggalkan cara hidup lama, memikul salib, meneladani karya hidup-Nya dan menjalankan firman-Nya. 

Bila hanya mengandalkan kemampuan dan pengetahuan diri sendiri, maka mengikut Yesus itu adalah tidak mungkin, sehingga perlu berharap dan mengandalkan Allah. Kata-kata Yesus memperjelas itu, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.“ Untuk itu harus meninggalkan cara berelasi yang bersifat transaksional dan membangun relasi yang intim dengan Kristus setiap hari.

Tukang parkir itu walau hadir hanya pada saat akhir, perlu juga mendapat upahnya, sehingga saya memberikannya dengan tulus tanpa menghitung-hitung. Demikian juga dengan siapa saja yang mau mengikut Yesus dengan sepenuh hati, pasti mendapat upahnya. Bahkan yang terakhir mengikut Yesus dapat menjadi yang pertama seperti kata Yesus, “Banyak orang yang pertama akan menjadi terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.”

Mari mengikut Yesus!
 
Doa:
Terpujilah nama-Mu ya Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus untuk selama-lamanya. Kami sering kali bertemu persoalan yang begitu kompleks dan sukar diselesaikan, sehingga kami putus asa dan berteriak minta tolong kepada-Mu. Kuatkanlah kami agar tetap berharap dan mengandalkan-Mu dengan mengikut Yesus Putra-Mu, karena bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah