(Renungan) Belajar Rendah Hati
Belajar Rendah Hati
(Veronika Trimardhany)
(Veronika Trimardhany)
Barang siapa yang terbesar di antara kamu, hendaklah Ia menjadi pelayanmu. Dan barang siapa meninggikan diri, Ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, Ia akan ditinggikan.
(Mat. 23:11-12)
Kalender Liturgi Sabtu, 22 Agustus 2026
Bacaan Pertama: Yeh. 43:1-7a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 85:9-14
Bacaan Injil: Mat. 23:1-12
Bacaan Pertama: Yeh. 43:1-7a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 85:9-14
Bacaan Injil: Mat. 23:1-12
Injil Mat. 23:1-12 berisi teguran Tuhan Yesus terhadap kemunafikan ahli Taurat dan orang Farisi. Ia mengajarkan tentang pentingnya keselarasan antara pengajaran/perkataan dengan perbuatan. Selain itu, Ia menghendaki para murid-Nya hidup melayani dalam kerendahan hati. “Janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat. 23:8.11-12).
Kadang kita merasa ingin dipuji kalau berhasil, entah itu nilai bagus atau jadi juara di kelas. Nggak salah sih, bangga sama diri sendiri, tapi kalau terlalu sombong, biasanya orang lain jadi malas dekat dengan kita. Di sinilah pentingnya sikap rendah hati.
Pengalaman ketika masih di SMA, saya selalu ingin nilai bagus supaya mendapat pujian dari teman ataupun guru. Hal ini terjadi, dan saya mendapat pujian dari teman-teman. Saya merasa bangga, namun meremehkan teman yang nilainya kurang bagus. Pujian guru membuat saya di atas angin, akibatnya saya menjadi sombong. Dampaknya saya dijauhi oleh teman-teman. Saya merasa sedih sekali ditinggalkan teman-teman, mereka tidak seperti dulu yang selalu belajar bersama. Saya menanggung akibat dari kesombongan saya.
Setelah lulus SMA, belajar dari pengalaman ketika ditinggalkan teman-teman, maka saya mengubah sikap dan perilaku ketika berada di kampus. Saya mulai berbagi pengetahuan, tidak pelit untuk memberikan ide dan inisiatif, sehingga dampaknya teman teman banyak mendukung. Saya bahagia sekali, maka hal itu mengubah hidup saya. Hingga sekarang, saya selalu berbagi pengetahuan atau informasi.
Kerendahan hati membuat kita lebih dekat dengan Tuhan. Pada Yak. 4:6 tertulis, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Jadi kalau kita rendah hati, kita justru makin diberkati Tuhan. Orang rendah hati tahu kalau talenta, kepintaran, atau kesempatan itu anugerah Tuhan, bukan hasil usaha sendiri semata. Oleh karena itu, marilah kita selalu mencontoh Tuhan Yesus yang selalu rendah hati dalam segala hal.
Doa:
Ya Tuhan, terima kasih kami diberi kesempatan untuk belajar kerendahan hati dari pengalaman yang lalu. Semoga kami bisa mencontoh kerendahan hati Tuhan Yesus sendiri, meskipun Putra Allah, namun Ia tidak menyombongkan diri. Kami mohon ampun Tuhan, jangan sampai kami hanya mengandalkan kemampuan sendiri, tetapi lupa melibatkan Tuhan dalam semua kegiatan. Amin.
Ya Tuhan, terima kasih kami diberi kesempatan untuk belajar kerendahan hati dari pengalaman yang lalu. Semoga kami bisa mencontoh kerendahan hati Tuhan Yesus sendiri, meskipun Putra Allah, namun Ia tidak menyombongkan diri. Kami mohon ampun Tuhan, jangan sampai kami hanya mengandalkan kemampuan sendiri, tetapi lupa melibatkan Tuhan dalam semua kegiatan. Amin.

Komentar
Posting Komentar