(Renungan) Iman yang Kecil namun Benar
Iman yang Kecil namun Benar
(Erick Stefanus Jahja)
Kalendar Liturgi Sabtu, 8 Agustus 2026
Bacaan Pertama: Hab. 1:12-2:4
Mazmur Tanggapan: Mzm. 9:8-9.10-11.12-13
Bacaan Injil: Mat. 17:14-20
Peristiwa pengusiran setan dan penyembuhan atas sakit banyak orang, telah dilakukan oleh Yesus dan para murid-murid-Nya. Namun, dalam peristiwa ini para murid gagal melakukan penyembuhan atas sakit ayan (yang sering disebut kesurupan) yang diderita seorang anak.
Bapak dari anak yang sakit itu menjumpai Yesus saat kembali dari bukit. Dia bersujud dan memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya, karena tidak terjadi penyembuhan oleh para murid Yesus atas anaknya. Yesus menegur para murid yang tidak percaya kepada Allah meski sudah lama bersama Yesus. Diusirlah setan itu dan sembuhlah anak yang sakit itu.
Para murid bertanya, kenapa mereka tidak bisa menyembuhkan anak itu? Yesus menjawab, "Karena kamu kurang percaya. Sebab, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.”
Bagaimana bisa para murid tidak mencari Yesus untuk hal yang tidak dapat dilakukan, tetapi seorang yang bukan murid Yesus berusaha bertemu dan memohon kesembuhan untuk anaknya yang sakit. Hal ini sering terjadi di mana hanya mengandalkan diri sendiri saja karena merasa sudah beriman besar.
Peristiwa pengusiran setan dan penyembuhan ini mengingatkan saya untuk selalu ingat kepada Tuhan bila menghadapi masalah hidup yang sudah tidak kuasa saya hadapi. Meski sudah ada pengalaman sebelumnya untuk tetap mengikutsertakan Tuhan dalam tindakan yang akan diambil dengan berdoa.
Suatu ketika saya mengalami dilema yang berat. Memulai sesuatu dengan doa adalah jalan terbaik selama ini, meski kadang tampak hal yang mustahil dan kadang memilih tindakan yang aneh di luar nalar. Kepercayaan akan keikutsertaan Tuhan dalam hidup meletakan iman yang benar sebagai hal yang utama.
Tetap percaya, di mana pada akhir peristiwa ada nilai terindah yang dialami, untuk lebih mendekatkan diri dan percaya kepada kuasa Tuhan.
Doa:
Bapa, Engkau sebagai pemberi hidup yang baik dalam hidup kami. Betapa ingin untuk memiliki iman yang kecil namun benar dihadapan-Mu. Jauhkan rasa bangga bilamana kami merasa beriman besar yang bisa membuat lupa akan keberadaan-Mu dalam hidup kami. Semoga kami bisa menjaga iman ini untuk selalu setia pada-Mu. Amin.
(Erick Stefanus Jahja)
Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, ...
(Mat. 17:20)
Bacaan Pertama: Hab. 1:12-2:4
Mazmur Tanggapan: Mzm. 9:8-9.10-11.12-13
Bacaan Injil: Mat. 17:14-20
Peristiwa pengusiran setan dan penyembuhan atas sakit banyak orang, telah dilakukan oleh Yesus dan para murid-murid-Nya. Namun, dalam peristiwa ini para murid gagal melakukan penyembuhan atas sakit ayan (yang sering disebut kesurupan) yang diderita seorang anak.
Bapak dari anak yang sakit itu menjumpai Yesus saat kembali dari bukit. Dia bersujud dan memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya, karena tidak terjadi penyembuhan oleh para murid Yesus atas anaknya. Yesus menegur para murid yang tidak percaya kepada Allah meski sudah lama bersama Yesus. Diusirlah setan itu dan sembuhlah anak yang sakit itu.
Para murid bertanya, kenapa mereka tidak bisa menyembuhkan anak itu? Yesus menjawab, "Karena kamu kurang percaya. Sebab, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.”
Bagaimana bisa para murid tidak mencari Yesus untuk hal yang tidak dapat dilakukan, tetapi seorang yang bukan murid Yesus berusaha bertemu dan memohon kesembuhan untuk anaknya yang sakit. Hal ini sering terjadi di mana hanya mengandalkan diri sendiri saja karena merasa sudah beriman besar.
Peristiwa pengusiran setan dan penyembuhan ini mengingatkan saya untuk selalu ingat kepada Tuhan bila menghadapi masalah hidup yang sudah tidak kuasa saya hadapi. Meski sudah ada pengalaman sebelumnya untuk tetap mengikutsertakan Tuhan dalam tindakan yang akan diambil dengan berdoa.
Suatu ketika saya mengalami dilema yang berat. Memulai sesuatu dengan doa adalah jalan terbaik selama ini, meski kadang tampak hal yang mustahil dan kadang memilih tindakan yang aneh di luar nalar. Kepercayaan akan keikutsertaan Tuhan dalam hidup meletakan iman yang benar sebagai hal yang utama.
Tetap percaya, di mana pada akhir peristiwa ada nilai terindah yang dialami, untuk lebih mendekatkan diri dan percaya kepada kuasa Tuhan.
Doa:
Bapa, Engkau sebagai pemberi hidup yang baik dalam hidup kami. Betapa ingin untuk memiliki iman yang kecil namun benar dihadapan-Mu. Jauhkan rasa bangga bilamana kami merasa beriman besar yang bisa membuat lupa akan keberadaan-Mu dalam hidup kami. Semoga kami bisa menjaga iman ini untuk selalu setia pada-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar