(Renungan) Keadilan vs Kemurahan Hati

Keadilan vs Kemurahan Hati
(Evelyn Yovita)

Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?
Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
(Mat. 20:15)

Kalender Liturgi Rabu, 19 Agustus 2026
Bacaan Pertama: Yeh. 34:1-11
Mazmur Tanggapan: Mzm: 23:1-3a.3b-4.5.6
Bacaan Injil: Mat. 20:1-16a

Perumpamaan yang hanya terdapat dalam Injil Matius ini disampaikan Yesus untuk menjawab pertanyaan Petrus. Kerajaan Surga adalah upah yang sama yang akan didapat semua murid yang sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya. Seperti pemilik kebun anggur, memberikan upah yang sama yaitu satu dinar bagi semua pekerja. Upah satu dinar hanya disepakati dengan pekerja yang datang pagi-pagi benar (anggaplah jam 6 pagi). Sementara untuk pekerja yang datang kemudian, hanya dijanjikan upah yang adil. Saat pembayaran upah jam 6 sore, pekerja yang datang jam 6 pagi menuduh pemilik kebun anggur mengabaikan prinsip keadilan. Mereka minta lebih dari satu dinar, karena jam kerjanya paling lama dibandingkan pekerja lainnya. Pemilik kebun anggur menjawab sungut-sungut mereka, bahwa ia sudah bertindak adil katanya, “Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?” 

Kala itu, sedinar sehari cukuplah untuk memberi makan satu keluarga (upah minimum). Artinya pemilik kebun anggur memberikan upah yang sama karena berbelas kasih. Di sini, Yesus ingin menjelaskan bahwa Kerajaan Surga diperoleh bukan karena jasa atau kerja keras manusia. Allah menyelamatkan manusia karena mengasihi mereka.

Mantan rekan kerja saya pernah mencurahkan isi hatinya kepada saya dan seorang teman. Ia merasa tidak dihargai, karena karyawan baru mendapatkan gaji yang sama dengannya. Padahal dia sudah bekerja sembilan tahun. Kami terdiam, bingung harus merespons apa mendengar keluh kesahnya yang kecewa diabaikan oleh perusahaan. Terlebih lagi pemilik perusahaan adalah mantan murid lesnya, sehingga seharusnya ia mendapatkan perlakuan lebih istimewa.

Berbeda dengan dunia, prinsip keadilan Tuhan tidak menghitung masa bakti. Kemurahan hati Tuhan melampaui batas keadilan. Kerajaan Surga dapat dimiliki oleh manusia karena Tuhan bermurah hati.

Marilah kita menyadari kemurahan hati Tuhan, seperti pekerja jam terakhir. Yang diterimanya bukanlah upah, melainkan pemberian. Semoga kita bisa semakin penuh syukur, rendah hati, dan murah hati terhadap sesama. Pemberian Tuhan kepada orang lain tidak mengurangi sedikit pun jatah kebaikan yang Tuhan sediakan bagi kita.

Doa: 
Bapa yang murah hati, ampunilah kami, yang sering tidak mensyukuri berkat dan rahmat-Mu.
Kobarkanlah Roh Kudus-Mu dalam hati kami supaya kami bisa menyadari, melihat penyertaan-Mu dalam hidup kami. Semoga kami mempunyai kerendahan hati, hati yang penuh syukur, dan murah hati kepada sesama sehingga kami bisa menyerupai-Mu yang murah hati tanpa batas. Semua doa ini kami panjatkan dengan perantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah