(Renungan) Keberanian demi Kebenaran

Keberanian demi Kebenaran
(Bernadette Esther)

Sebab,Yohanes berkali-kali menegur Herodes, ”Tidak diperbolehkan bagimu mengambil istri saudaramu!” (Mrk. 6:18)


Kalender Liturgi Sabtu, 29 Agustus 2026
PW. Wafatnya S. Yohanes Pembaptis
Bacaan Pertama: Yer. 1:17-19
Mazmur Tanggapan: Mzm. 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17
Bacaan Injil: Mrk. 6:17-29

Pada 29 April 1991 sekitar pukul 11.00, seorang sersan polisi militer mendatangi Paroki Santo Antonius di Salgueiro, Pernambuco, Brasil. Ia melepaskan tembakan kepada Pastor José Maria Prada. Pastor berusia 63 tahun itu tewas seketika dengan lima peluru yang bersarang di badannya. Aksi itu dipicu dendam, karena sang imam menolak memimpin upacara pernikahan yang dianggap tidak sah.

Dalam penyelidikan kanonik, Pastor José Maria Prada mengetahui bahwa pria itu sudah menikah secara sakramental dengan wanita lain. Ajaran Katolik tentang pernikahan sangat jelas. Dalam Catechism of the Catholic Church no. 1640 disebutkan: Dengan demikian ikatan perkawinan diikat oleh Allah sendiri, sehingga perkawinan antara orang-orang yang dibaptis yang sudah diresmikan dan dilaksanakan, tidak pernah dapat diceraikan. Meski pria itu bersikeras, Pastor José Maria bergeming. Ia ditekan. Ditawari uang. Diancam akan dibunuh. Pastor José Maria Prada berkata lebih memilih mati daripada mempersembahkan Misa pernikahan itu. Ancaman menjadi kenyataan. Berakhirlah hidup Sang Pastor. Ia menjadi martir untuk kesucian perkawinan.

Sekitar dua ribu tahun lalu, Yohanes Pembaptis dibunuh karena berkali-kali menegur Herodes, ”Tidak diperbolehkan bagimu mengambil istri saudaramu!” (Mrk. 6:18). Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam kepada Yohanes, dan bermaksud membunuh dia (Mrk. 6:19). Keinginan itu terwujud, ketika Herodes bersumpah memberi hadiah apa saja kepada putri Herodias yang tariannya menyenangkan hati Herodes. Hadiah yang diminta adalah kepala Yohanes Pembaptis (Mrk. 6:24). 

Membela dan menyuarakan kebenaran tak jarang harus dibayar dengan mengorbankan nyawa. Semua pengikut Kristus dipanggil untuk berani menyuarakan kebenaran dan nilai-nilai yang berasal dari Allah. Rasul Paulus yang berada di penjara, memohon jemaat Efesus agar mendoakannya, “Juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar.“(Ef. 6:19).

Maukah kita membela dan mengatakan hal yang benar? Bersediakah kita mengorbankan diri demi kebenaran? Doa dan bimbingan Roh Kudus akan memampukan kita untuk berani membela apa yang benar dan adil, walau tidak mudah dan penuh risiko.

Doa:
Allah Bapa di surga, kami mohon pertolongan Roh Kudus agar kami mampu melaksanakan perintah-Mu. Bersaksi tentang kebenaran dalam iman Katolik melalui perkataan dan perbuatan, meskipun kami mungkin akan ditolak, dikucilkan, dan bahkan dibunuh. Amin.  




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah