(Renungan) Lepaskan Kelekatan
Lepaskan Kelekatan
(Emilia Sulistyo)
Lalu Yesus berkata kepada murud-murid-Nya, “Jika seseorang mau menjadi pengikut-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”
(Mat. 16:24)
Kalender Liturgi Jumat, 7 Agustus 2026
Bacaan Pertama: Nah.1:15;2:2.3:1-3.6-7
Mazmur Tanggapan: Ul.32:35cd-36ab.39abcd.41
Bacaan Injil: Mat.16:24-28
Yesus menegur Petrus dengan keras. Ia merasa jalan yang ditawarkan Petrus mengecohkan, seperti jalan iblis, mengecohkan. Yesus menegaskan sekali lagi syarat mengikut Dia dengan berkata, “Jika seseorang mau menjadi pengikut-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” Mengapa Yesus mengatakan demikian? Padahal Yesus mengenal kita dengan baik. Hati manusia mudah melekat pada hal-hal duniawi. Kelekatan ini menghalangi kita untuk mengikut Yesus.
Menyangkal diri adalah mengubah pusat hidup (pikiran dan hati) yang berfokus pada 'aku' menjadi berfokus pada 'Tuhan'. Berani melepas kenyamanan dan menempatkan kehendak bebas kita di bawah kehendak Tuhan. Memikul salib berarti setia menjalani panggilan Allah, sekalipun menanggung aneka kesusahan dan menuntut pengorbanan.
Salah satu bentuk nyata penyangkalan diri dan memikul salib adalah melepaskan kelekatan. Anthony de Mello, SJ mengatakan bahwa kelekatan muncul ketika kita menganggap sesuatu atau seseorang sebagai syarat mutlak kebahagiaan. Ketika uang, status, atau kenyamanan menjadi yang utama, tanpa sadar semua itu dapat mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita.
Saya mempunyai dua orang teman dekat yang masih muda dan sedang berada di puncak karier. Mereka memilih pensiun dini demi menjalani hidup yang lebih bermakna, dan berani berkata 'cukup' pada sesuatu yang masih mudah mereka raih. Fokus hidup mereka tidak lagi pada diri sendiri. Tidak banyak orang mampu mengambil keputusan seperti itu.
Iblis terus menawarkan berbagai kelekatan dunia agar manusia menjauh dari Tuhan. Karena itu, mengikut Yesus bukan sekadar berjalan di belakang-Nya, tetapi berani melepaskan apa yang menghalangi kita berjalan bersama-Nya.
Hari ini, marilah kita bertanya dalam hati: kelekatan apa yang paling membuat saya sulit menyangkal diri dan memikul salib?
Doa:
Tuhan Yesus, berilah kami rahmat untuk melepaskan kelekatan sehingga dapat mengikut Engkau dengan hati yang bebas. Amin.

Komentar
Posting Komentar