(Renungan) Letak Martabat Manusia

Letak Martabat Manusia
(Andy W. Wibowo)

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari yang kecil ini. 
Sebab, Aku berkata kepadamu Malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.
(Mat. 18:10)

Kalender Liturgi Selasa, 11 Agustus 2026
PW. S. Klara, Perawan
Bacaan Pertama: Yeh. 2:8 - 3:4
Mazmur Tanggapan: Mzm. 119:14.24.72,103.111.131
Bacaan Injil: Mat. 18:1-5.10.12-14

Ensiklik (surat edaran) pertama Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas ditulis tahun 2026. Isinya  berfokus pada perlindungan martabat manusia dari ancaman kemajuan teknologi dalam bentuk kecerdasan buatan yang diciptakan untuk meningkatkan efisiensi kerja manusia dan mengoptimalkan hasil produksi kerjanya. Ancaman itu berupa pandangan bahwa martabat manusia semata-mata diukur dari kemampuannya berproduksi dalam pengertian ekonomis. Golongan yang tidak dapat berproduksi secara optimal seperti para lansia, orang sakit dan difabel dipandang kurang martabatnya. Paus Leo XIV ingin kita kembali ingat tujuan manusia diciptakan Allah adalah untuk menjalin relasi dan persekutuan dalam kasih, bukan menjadi obyek yang perlu terus ditingkatkan manfaat ekonomisnya.

Dalam Injil hari ini kita menemukan pesan yang sama. Para murid bertanya tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Yesus menjawab dengan memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Anak kecil yang lemah, tidak berdaya dan belum mampu menghasilkan manfaat ekonomi adalah yang terbesar dalam Kerajaan Surga karena memiliki sifat rendah hati dan kasih sayang tulus. 

Karakteristik utama yang membedakan anak kecil dengan orang dewasa adalah kemampuannya dalam mengasihi. Nelson Mandela, seorang tokoh sekuler, menulis dalam bukunya Long Walk to Freedom sebagai berikut, “Orang harus belajar untuk membenci, karena cinta datang lebih alami ke dalam hati manusia daripada sebaliknya.” Cinta atau bisa kita sebut kasih, memang lebih alami ada dalam diri manusia karena manusia diciptakan berdasarkan citra Allah yang mana adalah kasih. Hanya melalui kasih yang ditunjukkannya seorang manusia dapat menemukan martabatnya sebagai ciptaan Allah. Satu-satunya jalan untuk menjadikan kasih itu mewujud nyata hanyalah melalui relasi dan persekutuannya dengan sesama.

Kita perlu selalu ingat bahwa martabat seorang manusia bukan terletak pada kemampuannya untuk mengumpulkan harta atau mencapai suatu status sosial, melainkan pada kemampuannya mewujudkan citra penciptanya yaitu kasih dalam relasi dan persekutuannya dengan sesama di sekitarnya.

Doa:
Allah Bapa sumber kasih yang sempurna, kami bersyukur melalui pengorbanan Putra-Mu di atas salib kami dapat menemukan jalan untuk masuk dalam kerajaan-Mu. Semoga dengan mengikuti teladan Santa Klara dari Asisi yang diperingati hari ini, kami tidak kehilangan martabat kami sebagai manusia dalam peziarahan di dunia ini.  Bunda Maria yang penuh rahmat dan kasih, doakanlah kami anak-anakmu selalu. Amin.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Percaya meski Belum Melihat

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah