(Renungan) Memikul Salib, Menemukan Cahaya
Memikul Salib, Menemukan Cahaya
(Christine Meilani Kesumaputri)
(Christine Meilani Kesumaputri)
Sebab, siapa yang mau menyelamatkan nyawanya;
ia akan kehilangan nyawanya;
siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
(Mat. 16:25)
Bacaan Pertama: Yer. 20: 7-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 63:2.3-4.5-6.8-9
Bacaan Kedua: Rm. 12:1-2
Bacaan Injil: Mat. 16:21-27
Dalam Injil Matius hari ini, kita mendapati Yesus berjalan menuju Yerusalem dengan langkah sunyi namun teguh. Ia mengetahui salib menanti di ujung jalan, tetapi kasih-Nya lebih kuat daripada luka. Petrus ingin menolak penderitaan itu, sebab hati manusia kerap takut pada kehilangan dan air mata. Namun Yesus mengajarkan bahwa murid sejati bukanlah mereka yang mencari jalan mudah, melainkan yang berani memikul salib dengan cinta. Kadang Tuhan bekerja bukan lewat kemenangan gemerlap, melainkan lewat kesetiaan kecil yang tersembunyi. Di saat kita rela kehilangan demi kasih, jiwa justru menemukan hidup yang sejati; seperti lilin yang habis terbakar, namun menerangi ruangan gelap dengan damai lembut.
Mother Teresa pernah ditanya mengapa ia tetap melayani orang sakit dan sekarat di jalanan Kolkata, meski tubuhnya sendiri lelah dan renta. Ia tersenyum kecil, seperti embun jatuh di pagi sunyi. Baginya, setiap luka manusia adalah wajah Kristus yang menunggu disentuh kasih.
Suatu malam, seorang pria tua ditemukan terbaring di selokan, tubuhnya penuh penyakit dan bau yang menyengat. Banyak orang menutup hidung lalu pergi. Namun Mother Teresa mengangkat tubuh rapuh itu dengan tangannya sendiri. Saat seorang relawan bertanya bagaimana ia sanggup melakukannya setiap hari, ia menjawab perlahan, ”Aku melakukannya untuk Yesus.”
Pria itu meninggal beberapa jam kemudian, tetapi wajahnya telah berubah tenang seperti laut setelah badai. Dunia mungkin melihat penderitaan sebagai akhir, namun kasih yang dipersembahkan dalam pengorbanan kecil dapat menjadi jembatan menuju surga. Salib tidak selalu berbentuk kayu; kadang ia hadir sebagai kesabaran, pengampunan, dan kesetiaan yang diam-diam bercahaya.
Sudahkah hati kita tersentuh dan meleleh melihat penderitaan orang lain? Kalaupun kita tak mampu membantu banyak orang, mulailah dengan menolong satu orang saja. Pikullah salibmu hari ini dengan kasih, tenang, dan setia, maka cahaya kasih Tuhan akan menyinari kita.
Doa:
Bapa Yang Maha Baik, terima kasih atas berkat dan cinta-Mu. Tuhan Yesus yang memanggul salib, ajarilah kami menyangkal diri, setia dalam penderitaan dan mencintai tanpa syarat. Saat hati lemah, kuatkan langkah kami agar tetap setia mencintai, mengampuni, dan mengikuti-Mu sampai akhir. Teguhkanlah iman kami saat gelap meliputi diri kami, agar hidup kami berbuah dalam kasih dan kemuliaan-Mu, kini dan selamanya. Amin.

Komentar
Posting Komentar